Puisi Imam J. Larat
KINI
Kini,
Aku sudah
terbiasa sepi
Menyanyi dalam
hati
Iri dan dengki
pada diri sendiri
Karena kekasihku
telah mati
Lumat-lumat
terbius derik dalam kualat
Seirama dengan
cambuk
Sehati dengan
panas
Sejiwa dengan
kekonyolan
Kini,
Lama-lama
perasaan ini akan meledak dengan sendirinya
Sebelum waktunya
didendangkan alam
Sebab kekasihku
belum jua datang
Atau kutunggu di
depan pintu rumah tak pulang-pulang
Malam-malam
terasa dingin
Aku bergegas
mengambil tampar
Kuikat pada
pohon maliki
:ini sebagai
bukti bahwa aku sangat mencintaimu
Lalu kuambil
meja dan kursi
Kugantung kepala
sendiri
Plarrr…
Siapa itu,
Di depan pintu?
:belum waktunya
tuhan mengizinkan mati
Malang 2012
Angin Di Padang Pasir
Engkau angin di padang pasir
menggelayut di antara kurma-kurma yang memimpikan tuhannya
dan tak lupa hinggap sekejap
merapikan masa lalu
lalu apa yang di simpan untuk kejutan masa depan?
suara ratapan seperti senapan
sesak, bising, hanyut, pecah, irama jadi melodrama
luhur subur jadi kubur
mestinya anginmu tak seburuk yang kuduga
“sebab bertanya pada suatu hati adalah keyakinan yang tidak dapat diragukan
lagi”
Pagi sore malam menjemput
Melanglang waktu
Merubah segala iklim dan cuaca
Hanya satu pesanku
“semoga engkau masih seperti dahulu”
Engkau angin di padang pasir
Mendesir
Mencipta jarak ribuan kincir
Dan sekarang aku sudah mulai percaya
Bahwa di dunia ini memang ada namanya takdir
Malang 2013
0 comments :