Wednesday, 24 July 2013

PUISI

Unknown     14:12    


Puisi Imam J. Larat


KINI

Kini,
Aku sudah terbiasa sepi
Menyanyi dalam hati
Iri dan dengki pada diri sendiri
Karena kekasihku telah mati

Lumat-lumat terbius derik dalam kualat
Seirama dengan cambuk
Sehati dengan panas
Sejiwa dengan kekonyolan
Lalu mati dengan angan-angan

Kini,
Lama-lama perasaan ini akan meledak dengan sendirinya
Sebelum waktunya didendangkan alam
Sebab kekasihku belum jua datang
Atau kutunggu di depan pintu rumah tak pulang-pulang

Malam-malam terasa dingin
Aku bergegas mengambil tampar
Kuikat pada pohon maliki
:ini sebagai bukti bahwa aku sangat mencintaimu


Lalu kuambil meja dan kursi
Kugantung kepala sendiri
Plarrr…
Siapa itu,
Di depan pintu?
:belum waktunya tuhan mengizinkan mati

Malang 2012


Angin Di Padang Pasir

Engkau angin di padang pasir
menggelayut di antara kurma-kurma yang memimpikan tuhannya
dan tak lupa hinggap sekejap
merapikan masa lalu
lalu apa yang di simpan untuk kejutan masa depan?

suara ratapan seperti senapan
sesak, bising, hanyut, pecah, irama jadi melodrama
luhur subur jadi kubur
mestinya anginmu tak seburuk yang kuduga
“sebab bertanya pada suatu hati adalah keyakinan yang tidak dapat diragukan lagi”

Pagi sore malam menjemput
Melanglang waktu
Merubah segala iklim dan cuaca
Hanya satu pesanku
“semoga engkau masih seperti dahulu”

Engkau angin di padang pasir
Mendesir
Mencipta jarak ribuan kincir
Dan sekarang aku sudah mulai percaya
Bahwa di dunia ini memang ada namanya takdir

Malang 2013

0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.