Puteri Bulan
Oleh : Nurul Alfiah Kurniawati
Saat-saat
begini, saya paham betul apa yang saya rasakan. Kalau saya penulis dongeng
setara Kim Donghwa atau Lewis Carrol, saya ingin menulis begini:
Suatu hari, disebuah negeri Padang
Langit, Puteri Bulan termenung sendiri, ia lelah bermimpi untuk kembali
tersenyum dan berbahagia dengan sebelah kaki.
Ia tahu hidupnya tak akan lebh baik dari penumpang Kereta Angin yang tak bisa
menari bersama peri-peri. Tak ada sayap, hanya ada saput yang memenjarakannya dalam jenuh berkepanjangan. Para
dokter negeri Awan-pun
hanya dapat memberinya obat penenang. Agar saat ia kembali bersedih, ia tak
dapat membenturkan kepalanya ke dinding dengan kesal. Kecelakaan lalu lintas
angkasa membuatnya pengkor sempurna dan hanya dapat menangis sendirian di ujung
Mata Angin. Hanya ada seorang dokter muda yang selalu mentapnya iba. Seakan
berkata: Kasihan sekali kamu, Bulan...
Lalu
tak perlu lagi melanjutkan cerita, Puteri Bulan sedang menanti satu malam untuk
mengakhiri semua ini.
Saya
tersenyum kecut di atas kursi roda.
Besok lusa, kaki saya akan diamputasi. Saya akan berhenti berlari dan belajar
melepaskan. Sering saya menangis, saat seluruh penghuni rumah sakit terlelap.
Hanya ada satpam atau perawat shift malam
yang terkantuk-kantuk ditemani cangkir berisi buih kopi. Meski kadang tanpa air mata karena
stok air mata saya seperti hampir kering.
Cukup dalam hati, dan ini adalah neraka
kedua yang melengkapi paket perih
hati saya. Siksaan sederhana yang
nyata.
Tuhan,
keinginan saya tidak muluk.
Saya hanya meminta satu kaki...
saya janji tidak akan minta apa-apa lagi
# #
#
Serbuk bintang turun, Padang Langit tengah
berhujan dan seluruh insekta bermain hujan. Puteri Bulan senang bukan main,
sampai akhirnya ia juga bermaksud bergabung, ia hendak berlari tapi kemudian
tersadar,
kakinya tinggal sebelah.
Ia
meraung. Dipukulinya sebelah kaki itu, sambil terisak-isak.
Look
at the magic dance with the wind,
Look
all the snowflakes wishper your name
Feel
aal the wonder lifting
your dream, you can fly ...
Fly
to who you are, climb
upon your star ...
You
believe you’ll find your wing’s
... fly to your heart ....
Para
peri bernyanyi sambil menari, suara mereka terdengar seperti lagu kematian yang
sengau. Puteri Bulan terus menangis, sampai dokter muda datang dan membenamkan
wajahanya
dalam satu pelukan tulus.
“Menangislah, Bulan... sampai habis air
matamu, agar setelah itu kamu selalu bahagia ...”
Puteri
bulan menangis, hingga terlelap
Padahal
ia tak ingin tidur, ia takut bermimpi
Ia
lelah bermimpi.
Mimpi
hanya akan
membuatnya banyak berharap
Mimpi
baginya dalah jembatan menuju segala hal yang tak bisa disentuhnya di dunia
nyata
Dan
kala tersadar, puteri bulan akan merasa dibohongi.
Kebahagiaan
baginya adalah pecahan kaca yang absurd disatukan menjadi seperti semula.
“Makan dulu Al.... Bunda suapin.”
Saya menggeleng.
“Nggak lapar ...”
Wajah bunda terlihat kecewa.
Saya benci dikasihani, saya benci Bunda
disini.
Kenapa saat saya akan cacat pasca tabrak lari ia baru
datang? Kenapa bukan saat pembagian raport dan saya menjadi juara umum di
sekolah? Kenapa bukan untuk menjerang air panas tiap pagi di rumah sebelum saya
mandi?
“Bunda
sayang sama Al, makanya Bunda nggak mau lihat Al begini terus ...”
Bahkan saya mulai bingung mengartikan kata
sayang. Kalau sayang dalam
kamus Bunda sama halnya mengurus keluarga barunya yang kaya raya, maka saya
orang yang paling menolak di sayangi.
Saya merasa kasih sayang bunda seperti
bola api yang tak pernah bisa saya
rengkuh sedingin apapun cuaca saat itu.
kehadirannya sekarang adalah akumulasi dari rasa bersalah.
Saya tahu, Bunda hanya merasa iba, karena
bagaimanapun saya adalah darah daging yang mewarisi wajah orientalnya... yang belasan tahun lalu hadir tanpa
sengaja... yang ayahnya entah
siapa ...
Kasih sayangnya adalah bundelan
penyesalan dan rasa kasihan melihat keadaan saya yang menyedihkan.
“Makan
dulu Al, kasihan bundamu ...” ujar dokter muda.
Bara namanya.
Saya tetap bergeming.
Tomorrow
it my change ...
I don’t know how I’ll feel ...
Tomorrow...
# #
#
Bunda baru saja pulang, saya minta
ditemani suster untuk duduk di Pekarangan
rumah sakit.
“Sori, Al ...” dokter Bara tersenyum.
Saya melirik saja, dan membalasnya
dengan terpaksa
“Besok
operasi ... udah siap?” tanyanya, hati-hati.
“Siap
atau nggak, saya bakalan kehilangan kaki ...” jawab saya.
“Al,
kamu boleh kehilangan apapun yang kamu miliki, tapi tidak untuk semangat kamu
... saya tahu kamu kuat.
Nggak akan ada yang ninggalin kamu gara-gara kecelakaan ini, mereka semua
menyayangi kamu dengan cara mereka sendiri...”
“Itu
karena dokter tidak tau rasanya diabaikan ...” sinisku.
Dokter
terdiam sejenak.
“Saya
besar dipanti, saya tidak tahu wajah kedua orang tua saya ... tapi saya tahu
ada hal yang lebih penting dari pada terus menerus bersedih. Bahagia itu mudah Al ... kita yang
tentukan ... paling tidak, kita beruntung diberi kesempatan bertemu dengan
orang-orang yang menyayangi kita walau tak berlaku selamanya...”
Tak
ada lagi alasan untuk menahan bendungan air mata.
Saya biarkan saja, apa adanya.
Matahari sore menyelimuti pekarangan
dengan cahaya lembut. Kini, saya rela kehilangan kaki saya, Tuhan ...
Asal saya selalu merasa aman seperti
saat ini, waktu yang kini saya genggam kuat. Tak ada yang terobati, tak ada
yang kembali, tapi saya damai.
Saya tidak ingin kemana-mana lagi.
Saya tak perlu lagi menghibur diri
dengan lagu wind of change, berharap
Klause Meine tidak hanya membual.
The world is closing in, did you ever
think that we could be so close like brothers ... then the childern of tomorrow
share their dreams ...
Saya akan pensiun bermimpi,
Dokter Bara bukan mimpi, tak perlu
bermimpi untuk bersamanya.
Untuk
memintanya
tetap disini.
Saya tidak perlu khawatir
Karena mimpi itu tengah memeluk saya
sekarang,
Itu sudah lebih dari cukup.
Puteri Bulan terjaga dari tidurnya, ia
menangis lagi.
Kali ini bukan untuk bersedih. Melainkan berterima kasih. Sekalipun ia akan
sabit, Bulan senantiasa kekal di langit malam.
Orang-orang tetap memandanginya
seperti biasa. Dunia tetap
bermandikan
sinarnya yang pucat dan kadang juga secerah
petromaks
Ia kan segera mengumumkan ... bahwa ia
kini bahagia. Puteri Bulan menutup dongengnya dengan kalimat happily
ever after sekalipun akhirnya tidak
seperti yang ia harapkan. Ia
akan tetap bercahaya
menyaksikan peri menari dan bernyanyi seperti Balerina.
Saya
tidak minta satu kaki, saya hanya ingin bahagia dan jangan bilang ini terlalu
muluk.
-The end-
06 Mei 2011
0 comments :