Wednesday, 24 July 2013

puteri bulan

Unknown     14:12    



Puteri Bulan

Oleh : Nurul Alfiah Kurniawati

Saat-saat begini, saya paham betul apa yang saya rasakan. Kalau saya penulis dongeng setara Kim Donghwa atau Lewis Carrol, saya ingin  menulis begini:
Suatu hari, disebuah negeri Padang Langit, Puteri Bulan termenung sendiri, ia lelah bermimpi untuk kembali tersenyum dan berbahagia dengan sebelah kaki. Ia tahu hidupnya tak akan lebh baik dari penumpang Kereta Angin yang tak bisa menari bersama peri-peri. Tak ada sayap, hanya ada saput yang memenjarakannya dalam jenuh berkepanjangan. Para dokter negeri Awan-pun hanya dapat memberinya obat penenang. Agar saat ia kembali bersedih, ia tak dapat membenturkan kepalanya ke dinding dengan kesal. Kecelakaan lalu lintas angkasa membuatnya pengkor sempurna dan hanya dapat menangis sendirian di ujung Mata Angin. Hanya ada seorang dokter muda yang selalu mentapnya iba. Seakan berkata: Kasihan sekali kamu, Bulan...
Lalu tak perlu lagi melanjutkan cerita, Puteri Bulan sedang menanti satu malam untuk mengakhiri semua ini.
Saya tersenyum kecut di atas kursi roda. Besok lusa, kaki saya akan diamputasi. Saya akan berhenti berlari dan belajar melepaskan. Sering saya menangis, saat seluruh penghuni rumah sakit terlelap. Hanya ada satpam atau perawat shift malam yang terkantuk-kantuk ditemani cangkir berisi buih kopi. Meski kadang tanpa air mata karena stok air mata saya seperti hampir kering.
Cukup dalam hati, dan ini adalah neraka kedua yang melengkapi paket perih hati saya. Siksaan sederhana yang nyata.
Tuhan, keinginan saya tidak muluk. Saya hanya meminta satu kaki... saya janji tidak akan minta apa-apa lagi

# # #
Serbuk bintang turun, Padang Langit tengah berhujan dan seluruh insekta bermain hujan. Puteri Bulan senang bukan main, sampai akhirnya ia juga bermaksud bergabung, ia hendak berlari tapi kemudian tersadar, kakinya tinggal sebelah.
Ia meraung. Dipukulinya sebelah kaki itu, sambil terisak-isak.

Look at the magic dance with the wind,
Look all the snowflakes wishper your name
Feel aal the wonder lifting your dream, you can fly ...
Fly to who you are, climb upon your star ...
You believe you’ll find your wing’s ... fly to your heart ....

Para peri bernyanyi sambil menari, suara mereka terdengar seperti lagu kematian yang sengau. Puteri Bulan terus menangis, sampai dokter muda datang dan membenamkan wajahanya dalam satu pelukan tulus.
“Menangislah, Bulan... sampai habis air matamu, agar setelah itu kamu selalu bahagia ...”
Puteri bulan menangis, hingga terlelap
Padahal ia tak ingin tidur, ia takut bermimpi
Ia lelah bermimpi.
Mimpi hanya akan membuatnya banyak berharap
Mimpi baginya dalah jembatan menuju segala hal yang tak bisa disentuhnya di dunia nyata
Dan kala tersadar, puteri bulan akan merasa dibohongi.
Kebahagiaan baginya adalah pecahan kaca yang absurd disatukan menjadi seperti semula.

“Makan dulu Al.... Bunda suapin.
         
Saya menggeleng.
Nggak lapar ...”
Wajah bunda terlihat kecewa.
Saya benci dikasihani, saya benci Bunda disini.
Kenapa saat saya akan cacat pasca tabrak lari ia baru datang? Kenapa bukan saat pembagian raport dan saya menjadi juara umum di sekolah? Kenapa bukan untuk menjerang air panas tiap pagi di rumah sebelum saya mandi?
“Bunda sayang sama Al, makanya Bunda nggak mau lihat Al begini terus ...”
Bahkan saya mulai bingung mengartikan kata sayang. Kalau sayang dalam kamus Bunda sama halnya mengurus keluarga barunya yang kaya raya, maka saya orang yang paling menolak di sayangi.
Saya merasa kasih sayang bunda seperti bola api  yang tak pernah bisa saya rengkuh sedingin apapun cuaca saat itu. kehadirannya sekarang adalah akumulasi dari rasa bersalah.
Saya tahu, Bunda hanya merasa iba, karena bagaimanapun saya adalah darah daging yang mewarisi wajah orientalnya... yang belasan tahun lalu hadir tanpa sengaja... yang ayahnya entah siapa ...
Kasih sayangnya adalah bundelan penyesalan dan rasa kasihan melihat keadaan saya yang menyedihkan.
“Makan dulu Al, kasihan bundamu ...” ujar dokter muda.
 Bara namanya.
Saya tetap bergeming.
Tomorrow it my change ...
I don’t know how I’ll feel ...
Tomorrow...

# # #

Bunda baru saja pulang, saya minta ditemani suster untuk duduk di Pekarangan rumah sakit.
“Sori, Al ...” dokter Bara tersenyum.
Saya melirik saja, dan membalasnya dengan terpaksa
“Besok operasi ... udah siap?” tanyanya, hati-hati.
“Siap atau nggak, saya bakalan kehilangan kaki ...” jawab saya.
“Al, kamu boleh kehilangan apapun yang kamu miliki, tapi tidak untuk semangat kamu ... saya tahu kamu kuat. Nggak akan ada yang ninggalin kamu gara-gara kecelakaan ini, mereka semua menyayangi kamu dengan cara mereka sendiri...
“Itu karena dokter tidak tau rasanya diabaikan ...” sinisku.
Dokter terdiam sejenak.
“Saya besar dipanti, saya tidak tahu wajah kedua orang tua saya ... tapi saya tahu ada hal yang lebih penting dari pada terus menerus bersedih. Bahagia itu mudah Al ... kita yang tentukan ... paling tidak, kita beruntung diberi kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menyayangi kita walau tak berlaku selamanya...”

Tak ada lagi alasan untuk menahan bendungan air mata.
Saya biarkan saja, apa adanya.
Matahari sore menyelimuti pekarangan dengan cahaya lembut. Kini, saya rela kehilangan kaki saya, Tuhan ...
Asal saya selalu merasa aman seperti saat ini, waktu yang kini saya genggam kuat. Tak ada yang terobati, tak ada yang kembali, tapi saya damai.
Saya tidak ingin kemana-mana lagi.
Saya tak perlu lagi menghibur diri dengan lagu wind of change, berharap Klause Meine tidak hanya membual.

The world is closing in, did you ever think that we could be so close like brothers ... then the childern of tomorrow share their dreams ...

Saya akan pensiun bermimpi,
Dokter Bara bukan mimpi, tak perlu bermimpi untuk bersamanya.
Untuk memintanya tetap disini.

Saya tidak perlu khawatir
Karena mimpi itu tengah memeluk saya sekarang,
Itu sudah lebih dari cukup.

Puteri Bulan terjaga dari tidurnya, ia menangis lagi. Kali ini bukan untuk bersedih. Melainkan berterima kasih. Sekalipun ia akan sabit, Bulan senantiasa kekal di langit malam. Orang-orang tetap memandanginya seperti biasa. Dunia tetap bermandikan sinarnya yang pucat dan kadang juga secerah petromaks
Ia kan segera mengumumkan ... bahwa ia kini bahagia. Puteri Bulan menutup dongengnya dengan kalimat happily ever after sekalipun akhirnya tidak seperti yang ia harapkan. Ia akan tetap bercahaya menyaksikan peri menari dan bernyanyi seperti Balerina.

Saya tidak minta satu kaki, saya hanya ingin bahagia dan jangan bilang ini terlalu muluk.

-The end-


                                                                                                       06 Mei 2011

0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.