Monday, 17 June 2013

Literasi Media: Sebuah Upaya Memahami Media

Unknown     22:53    


Menghadapi produksi media yang semakin hari semakin berorientasi pada komoditas ekonomi dan penyebaran ideologi dominan, maka urgen sekali setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami media. Kemampuan untuk menyaring, memilah dan memilih informasi atau pesan-pesan yang terdapat di media massa, baik cetak maupun elektronik. Inilah sebenarnya esensi dari literasi media.
Kemampuan untuk menyeleksi setiap pesan atau informasi dalam media ini tentu berangkat dari taraf kekritisan masyarakat dalam menggunakan media. Para pengguna media harus cerdas dan selektif dalam memilih informasi. Cerdas dan selektif dalam artian, minimal seorang pengguna media perlu menyelidiki segmentasi audiens dari informasi tersebut; perlu juga mempertanyakan kandungan informasinya; siapa yang ada dibalik informasi tersebut; lalu ideologi dan nilai-nilai apa yang melatarbelakangi informasi tersebut.

Ada beberapa konsep yang perlu diketahui untuk membangun kemampuan literasi media, bahwa media tidak pernah netral. Media dan ide yang diproduksi tidak pernah berdiri sendiri dan lepas dari konstruksi kepentingan, ideologi, kepemilikan dan tendensi komersial. Mengutip Alex Sobur (2001), bahwa secara teoritik, konten dan makna-makna yang dibawa melalui media ditentukan oleh basis ekonomi dari organisasi yang menciptakan atau membiayai. Akibatnya publik digiring pada konsensus yang menguntungkan mereka.
National Association for Media Literacy Education (NAMLE) memandang literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, baik informasi media cetak maupun non cetak (http://namle.net). Berangkat dari pandangan NAMLE tersebut, maka literasi media menjadi sangat naif untuk dipelajari jika tidak memiliki kemampuan mengakses pesan atau informasi. Nah setelah mampu mengakses informasi, setiap orang dituntut untuk mampu menganalisa, mengevaluasi dan mengkomunikasikan hasilnya agar pengakses informasi tidak terjebak sendiri dalam informasi tersebut.
Dengan demikian, mempelajaari literasi media sangat penting di zaman ini. Zaman yang  tidak lagi terjadi ekspansi informasi, melainkan apa yang disebut Jean Baudrillard (dalam Yasraf: 2011:83) sebagai implosi, yaitu semacam kondisi ruang yang di dalamnya manusia bersama wahananya tidak lagi menjelajahi teritorial dengan cara ekspansi, akan tetapi teritorial-teritorial yang telah dikuasai batasnya, justru meledak ke dalam dan mengerumuni manusia layaknya magnet, melalui simulasi elektronik. Atau meminjam istilah Paul Virilio, bahwa manusia sekarang itu seperi kutub inersia. Yaitu sebuah titik di mana subjek, menampung, menahan, menyerap setiap zat dan gerakan yang datang (informasi, tontonan, gaya) lewat simulasi elektronik.
Pengetahuan dan kemampuan akan literasi sangat penting. Dengan kemampuan literasi media, Pertama, masyarakat akan menjadi audiens yang aktif dan selektif. Kedua, masyarakat mampu membangun kesadaran dan pola pikir yang kritis dalam merespon isi media. Ketiga, masyarakat bisa menentukan isi media yang sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatan bagi dirinya. Keempat, masyarakat menjadi cerdas dalam mengontrol isi media dan tidak mudah terkontaminasi oleh propaganda informasi isi media. Kelima, untuk membangun generasi berikutnya yang tangguh dan siap hidup dalam kungkungan dan gelombang dahsyat media.
Dalam membangun kemampuan literasi media, James Potter (2001) membagi struktur pengetahuan ke dalam tiga kategori guna mendukung perspektif literasi media. Pertama, pengetahuan tentang isi atau konten media. Kedua, pengetahuan tentang industri media. Ketiga, pengetahuan tentang efek media.
Dari ketiga struktur pengetahuan yang ditawarkan Potter, dapat diambil sebuah konklusi konkret bahwa kemampuan literasi media dibangun dari pemikiran kritis atas setiap konten yang disajikan media. Artinya, masyarakat harus mampu menganalisa dan menginterpretasi isi pesan, mengetahui proses industrialisasi media hingga pada ekses-ekses yang ditimbulkan oleh media.
Akhirnya, untuk menghadapi implosi informasi media, setiap orang harus memiliki kemampuan literasi media yang mapan. Dengan literasi media,  masyarakat akan memahami bahwa seluruh ide yang diproduksi media adalah representasi dari konstruksi realitas. Hasil rekonstruksi akan sangat berbeda dengan realita yang dikonstruksi.
Berangkat dari paradigma tersebut, seyogyanya literasi media tidak hanya menjadi wacana retoris belaka melainkan mampu dikejawantahkan dan disebarluaskan kepada masyarakat secara masif dan kontinuitas. Pemahaman akan petingnya literasi media, menjadikan masyarakat yang cerdas dan selektif dalam menfilter terpaan media yang berlalu lalang dengan volume intensitas yang sangat tinggi.


*Latif Fianto, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan Ketua Umum IMIKI Cabang Malang.

0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.