Menghadapi produksi media yang semakin hari semakin
berorientasi pada komoditas ekonomi dan penyebaran ideologi dominan, maka urgen
sekali setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami media. Kemampuan untuk
menyaring, memilah dan memilih informasi atau pesan-pesan yang terdapat di
media massa, baik cetak maupun elektronik. Inilah sebenarnya esensi dari
literasi media.
Kemampuan untuk menyeleksi setiap pesan atau informasi
dalam media ini tentu berangkat dari taraf kekritisan masyarakat dalam
menggunakan media. Para pengguna media harus cerdas dan selektif dalam memilih
informasi. Cerdas dan selektif dalam artian, minimal seorang pengguna media
perlu menyelidiki segmentasi audiens dari informasi tersebut; perlu juga
mempertanyakan kandungan informasinya; siapa yang ada dibalik informasi
tersebut; lalu ideologi dan nilai-nilai apa yang melatarbelakangi informasi
tersebut.
Ada beberapa konsep yang perlu diketahui untuk
membangun kemampuan literasi media, bahwa media tidak pernah netral. Media dan
ide yang diproduksi tidak pernah berdiri sendiri dan lepas dari konstruksi kepentingan,
ideologi, kepemilikan dan tendensi komersial. Mengutip Alex Sobur (2001), bahwa
secara teoritik, konten dan makna-makna yang dibawa melalui media ditentukan
oleh basis ekonomi dari organisasi yang menciptakan atau membiayai. Akibatnya
publik digiring pada konsensus yang menguntungkan mereka.
National Association for Media Literacy Education (NAMLE) memandang literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi
yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi
dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, baik informasi media
cetak maupun non cetak (http://namle.net). Berangkat dari pandangan NAMLE tersebut, maka literasi media menjadi
sangat naif untuk dipelajari jika tidak memiliki kemampuan mengakses pesan atau
informasi. Nah setelah mampu mengakses informasi, setiap orang dituntut
untuk mampu menganalisa, mengevaluasi dan mengkomunikasikan hasilnya agar
pengakses informasi tidak terjebak sendiri dalam informasi tersebut.
Dengan demikian, mempelajaari literasi media sangat
penting di zaman ini. Zaman yang tidak lagi terjadi ekspansi informasi,
melainkan apa yang disebut Jean Baudrillard (dalam Yasraf: 2011:83) sebagai implosi,
yaitu semacam kondisi ruang yang di dalamnya manusia bersama wahananya tidak
lagi menjelajahi teritorial dengan cara ekspansi, akan tetapi
teritorial-teritorial yang telah dikuasai batasnya, justru meledak ke dalam dan
mengerumuni manusia layaknya magnet, melalui simulasi elektronik. Atau meminjam
istilah Paul Virilio, bahwa manusia sekarang itu seperi kutub inersia. Yaitu
sebuah titik di mana subjek, menampung, menahan, menyerap setiap zat dan
gerakan yang datang (informasi, tontonan, gaya) lewat simulasi elektronik.
Pengetahuan dan kemampuan akan literasi sangat
penting. Dengan kemampuan literasi media, Pertama, masyarakat akan
menjadi audiens yang aktif dan selektif. Kedua, masyarakat mampu
membangun kesadaran dan pola pikir yang kritis dalam merespon isi media. Ketiga,
masyarakat bisa menentukan isi media yang sesuai dengan kebutuhan dan
kemanfaatan bagi dirinya. Keempat, masyarakat menjadi cerdas dalam
mengontrol isi media dan tidak mudah terkontaminasi oleh propaganda informasi
isi media. Kelima, untuk membangun generasi berikutnya yang tangguh dan
siap hidup dalam kungkungan dan gelombang dahsyat media.
Dalam
membangun kemampuan literasi media, James Potter (2001) membagi struktur
pengetahuan ke dalam tiga kategori guna mendukung perspektif literasi media. Pertama,
pengetahuan tentang isi atau konten media. Kedua, pengetahuan tentang
industri media. Ketiga, pengetahuan tentang efek media.
Dari ketiga
struktur pengetahuan yang ditawarkan Potter, dapat diambil sebuah konklusi
konkret bahwa kemampuan literasi media dibangun dari pemikiran kritis atas
setiap konten yang disajikan media. Artinya, masyarakat harus mampu menganalisa
dan menginterpretasi isi pesan, mengetahui proses industrialisasi media hingga
pada ekses-ekses yang ditimbulkan oleh media.
Akhirnya,
untuk menghadapi implosi informasi media, setiap orang harus memiliki kemampuan
literasi media yang mapan. Dengan literasi media, masyarakat akan
memahami bahwa seluruh ide yang diproduksi media adalah representasi dari
konstruksi realitas. Hasil rekonstruksi akan sangat berbeda dengan realita yang
dikonstruksi.
Berangkat
dari paradigma tersebut, seyogyanya literasi media tidak hanya menjadi wacana
retoris belaka melainkan mampu dikejawantahkan dan disebarluaskan kepada
masyarakat secara masif dan kontinuitas. Pemahaman akan petingnya literasi
media, menjadikan masyarakat yang cerdas dan selektif dalam menfilter terpaan
media yang berlalu lalang dengan volume intensitas yang sangat tinggi.
0 comments :