Masa kecilku
telah berlalu, aku seorang pemuda tangguh,kini telah lepas dari buaian sang
ibu, duniaku dunia baru
Aku mengembara
melintas dunia, diselah leburan pasir seorang nelayan bercerita tentang
ganasnya ombak dilautan, para petapun begitu, bercerita tentang tentang sepi
ditengah kesunyian
Nak, ganasnya
kehidupan laksana angin topan menyapu reranting dan dadar-dadar ditengah hutan. Aku bermimpi, aku terbang
ditengah semaraknya saupan awan aku mengejar bintang, akan kupetik engkau agar
dunia mencatat sejarah tentang mimpiku hingga aku turun melawan angin badai
kugenggam deruh sawuh walau tak berlabuh. catatlah, mimpiku akan melukis
sejarah dari darah juang dan tetesan air mata,
Akan ku tunggu
engkau dalam alam lapis ketuju kutemukan angin badai tentang pesan seorang ibu,
akan kucoba menata langkah mengepal tangan menyingsing baju disaat abu telah
angus terbakar api kemarahan. Ibu aku sekarang tak lagi bermimipi izikan aku
memakai zimat tali benang yang kau pasang di pinggangku dahulu akan kusatukan bukit dan gunung dalam tali pinggangku
Akan aku
kembalikan tentang sejarah semut yang menaklukkan gajah, sebab logika dunia
telah mengajariku bahwa tak ada yang tak mungkin saat nafas dan jantung masih
berdetak, umpama rembulan dan mentari
yang selalu hadir bergantian yang menghadirkan paradigma siang dan malam
Pengambarannku,
alam telah mengguruiku tentang makna dari sisihan detik hembus nafas yang
tersisahkan. Ombak yang berdebur, angin yang berhembus, sinar yang bercahaya,
ternyata lambang kehidupan tertanam rapat dari sketsa alam dalam setiap
pandangan.

0 comments :