Tersina
-“Aku
mencintaimu, Bukan untuk menikahimu!”.
+”Kenapa?”.
Apakah ada yang salah dengan diriku? Atau mungkin aku sudah tidak layak buat
kamu: kurang cantik atau memang dari segi penampilanku yang pas-pasan. Aku
butuh jawabanmu yang dapat diterka oleh akal fikiran.
-bukan..! kamu
bukan kurang cantik atau sudah tidak layak di mataku. Bagiku cantik dan jelek
tidak jadi masalah. Karena bukan cantik yang membawa cinta, tapi cinta yang
membuat seseorang menjadi cantik.
+lalu kenapa?
-aku masih
tidak bisa melupakan masa laluku meski sedih. Karena masa lalu menurutku tetap
hadiah meski sedih. Jadi mengertilah perasaanku.
-“ya, aku
mengerti.” Memang butuh waktu untuk melupakannya hingga kau benar-benar jadi
milikku seutuhnya. Aku masih sabar menunggumu walau itu sangat menyakitkan. Aku
sangat percaya dan optimis bahwa cintamu hanya untukku.
Ya, semenjak pertemuan sekaligus percakapan itu kesepian meronta di badanku.
Lama-lam makin melemah saja. Aku harap ini tidak berkelanjutan sampai
benar-benar usiaku genap 20 tahun. Dan sepertinya sudah menginjak bulan ke-2;
februari. Dan Bulan mendatang kehidupan yang baru akan benar datang tanpa
disangka dan diundang. Kamu tahu?. Di sisa yang genap 20 tahun aku segera
dinihkan dengan peria yang tak kukenal. Itsss..., bukan itu maksudku.
Masalahnya aku tidak mencintainya. Maka dari itu aku lebih suka kesunyian melamun
di dalam kamar. Ah, membuatku tak bergairah saja. Seandainya kau datang pada
malam ini dan mengucapkan kata yang kutunggu “aku mencintaimu, maka aku akan
melamarmu.” Mungkin saja rinduku berburuh di jendela beserta angin mamiri
saling berkejaran meminpin hati kita.
+kau melamun?.
Tidurlah, malam sudah larut. Aku tidak ingin anak sematawayangku jatuh sakit
karena kerasukan. Malam bukan pelarian, hanya tidur membuatmu lebih tenang.
-ia.
Sejauh ini aku tahu maksudnya. Karena ini adalah perintah bapakku sendiri,
rasanya tidak sopan menolaknya. Lebih baik aku tidur berbagi rasa dengan
kesepian dan esok hari aku takkan berhenti berharap kau memang datang. Dan jika
kau tidak datang, aku sendiri yang akan mendatangi rumahmu sambil kubelai
rambutmu sejengkang dari jendela. Biar bunga diluar lebih mekar ingin
memastikan apa saja yang kita lakukan di dekat jendela. Cuma satu yang ingin
kuinginkan darimu, yaitu: sebuah kata “cinta.” Itu saja sudah cukup mengobati
kegelisahan-kegelisahan dalam diri. Tapi kata itu kayaknya terlalu sulit bagimu
untuk diucapkan.
Apa aku
kurang........???
Ih, melamun
lagi, melamun lagi. Rasanya hidup ini hanya andai-andai saja, mimpi mungkin?.
Mestinya aku berbuat sesuatu untuk mendapatkannya, bukan hanya mealamun dan
terus melamun.
Tunggu aku,
jika besok kau tidak datang, maka aku yang akan mendatangi. Malam ini aku sudah
bersumpah demi mendapatkanmu; aku rela melakukan apa saja. Seandainya engkau
tahu betapa aku sangat mengharapkanmu menjadi penolong di hari-hari kritis ini.
Bawalah aku kemana saja sesukamu. Dan sebelum kau tidur maka ingatlah namaku
“TERSINA” dan akupun akan mengingatmu “BAPULUH.”
Diluar sana malam mulai berenang menjemput siang, sementara kesunyian masih
terbaring di reranting pohon salak menggantungkan dirinya tanpa sehehelai kain
tipispun. Apalagi yang terfikrkan kecuali menunggu. Seperti air yang juga terus
saja mengalir tanpa letih menginjakkan kakinya di tanah dan bebatuan. Langit
sekarang benar-benar tidak menangis, sebab tidak ada waktu yang tepat
menjalankan ritual itu. Hanya remang-remang menanti siang datang.
+kau mau
kemana?
-aku tidak mau
kemana-mana, hanya ingin mencari angin segar di dekat perkebunan.
+Berangkatlah,
jangan lama-lama!, aku tidak ingin kamu kenapa-napa.
***
Siang begitu indah untuk dinikmati, hanya lalu lalang kendaraan yang membikin
orang jadi stres sebab kebisingan panjang tanpa aturan. Seandainya negeri ini
tidak ada polusi mungkin saja hidup kita akan nyaman dan dapat menghirup udara
segar di pagi hari. Semenjak kemerdekaan indonesia pada tahun 1945 itulah
kenyamanan dan ketentraman yang dirasakan rakyat pertama kali. Sebab kebebasan
benar-benar tercapai di negeri kita.
Dimana kau,
luh?
Apakah kamu
tidak akan datang kemari?
“Temuilah aku
disini, jemputlah dan katakan cinta” sampai kapan aku menantimu disini.
Seandainya penantianku tidak akan membawa kesia-siaan maka sampai matahari
menyingsing dan terbit lagi aku tetap menunggumu. Aku orangnya tidak sabarabn
jika perbuatan itu masih tidak dalam kepastian. Jika engkau tidak datang maka
tunggulah aku di tempatmu.
Sebenarnya aku tidak pantas melakukan ini, luh!. Akau tahu bahwa aku adalah
seorang perempuan; seorang perempuan yang mengharapkan cinta darimu. Tidak
selamanya seoarng perempuan menunggu kan?. “itu budaya tidak baik”, biar
posisimu aku gantikan pada hari ini. Ibaratnya aku sekarang menjadi peminpin
dalam ketakutan: takut kau tidak datang, takut kau akan mengingkari janjinya,
takut kau tidak mengatakan cinta, dan takut aku dinikahkan dengan peria yang
bukan pilihanku. Kuberi waktu kau 25 menit dan jika masih tidak ada maka
tinggal giliran niatku yang akan berjalan. Biarpun banyak orang mengatakan
bahwa aku perempuan murahan, perempuan pengemis cinta itu tidak jadi masalah
asalkan aku bisa meraih cita-cita itu. Bukankah kebahagian itu sempurna ketika
kita menikmatinya bersama seseorang yang kita cintai. Maka kau harus belajar
membalas budiku dan usahaku yang layak dengan usahaku.
--------------------------
Matahari di luar adalah saksi cinta
Menusuk-nusuk, menghangatkan dalam bara
Sementara aku disini berenang mengubur kegelisahan
Tanpa sadar aku sudah duduk berjam-jam
Luh, dimana kau?
Disini kesepian sudah mulai mencengkeram
Memupuskan harapan
Kabari aku luh!
Jangan biarkan kesabaranku memuncak
Lalu rinduku sedikit berkurang
Dan demi cinta aku rela
menderita
--------------------------------
Apakah aku tidak salah melihat, kau benar datang, luh?. Kemarilah duduk di
sampingku, ada sebuah rahasia yang sanagat penting untuk kusampaikan kapadamu
dan kuharap engkau dapat bertanggungjawab atas segala perbuatanmu. Bukannya aku
memaksa, tapi aku memang sudah terlanjur bermain air sementara wadahmu khusus
kurenangi sudah kering. Sekarang sudah waktunya engkau mengaliri kesekujur
tubuhku mumpung gerimis sekarang masih menangis, sebentar lagi hujan badai akan
segera datang. Sebenarnya aku ingin memelukku, menciumimu, menikmati aroma
tubuhmu, sehingga seutuhnya kau terpekur di hatiku. Namun aku masih ingat bahwa
kita masih belum resmi menjadi sepasang kekasih. Jadi biar rasa bahagia ini
kutahan sampai nanti setelah waktunya tiba dan kita leluasa melakukan apa saja.
+”katakan, katakanlah, luh!” bahwa kau mencintaiku
lalu kau akan menikahiku sebelum aku pingsan dipangkuanmu. Buatlah satu kali
ini saja aku merasa bahagia; bahagia yang mungkin orang lain tidak pernah
merasakan sebelumnya. Karena kebahagiaan itu sangatlah relatif. Atau kau minta
aku yang mengecup bibirmu terlebih dulu.
- “sebenarnya aku juga mencintaimu”, namun aku harus
mempertimabangkan keputusanku ini. Kuharap kau memahami keadaanku. Ada sebuah
alasan yang mungkin tidak bisa kukatakan padamu saat ini. Setelah tepat
waktunya semua akan terungkap dan salah satu orang yang tahu lebih dahulu
adalah dirimu selain diriku. Aku menjaminnya.
+”tenanglah, luh!” Kapan sih aku yang tidak memahami
perasaanmu. Lakukanlah yang engkau mau. Aku paling luluh terhadapmu, sulit
sekali aku menolak segala keputusanmu. Aku sangat yakin dan percaya bahwa
cintamu akan menjagaku. Maka lakunlah, aku masih saja setia menunggumu.
Ya, tiga hari lagi bulan Purnama akan datang, dan aku harus menunggu lagi yang
kesekian kalinya. Sebenarnya aku tidak suka menunggu terlalu lama. Tapi
semenjak aku kenal denganmu, luh. Nampaknya aku memang diajari untuk terus
bersabar dan terus bersabar. Dan segala tindakan pasti ada konsekwensi dan
resikonya lalu tergantung kita untuk memilih apa. Diam juga merupakan sebuah
pilihan. Jadi antara diam dan tidak itu sama. Tetapi bagaimana kita mengambil
keputusan secara bijaksana. Itulah kata-kata yang selalu kamu katakan kepadaku.
Dari saking sringnya aku tidak usah menghafal dan ditulis di memory bookku.
malam ke I (Sebelum Bulan
Purnama)
Nampaknya kegelisahan mulai tumbuh sedikit demi sedikit meski aku sangat
percaya dengan semua kata-katamu. Tapi hati ini tidak dapat dipungkiri rasa itu
sungguh membuatku kefikiran. Akankah kau akan menepati janjimu. Yang selama ini
harus kutunggu dengan penuh kesabaran serta menahan segala emsiku yang sudah
memuncak.
Sabarlah hati.... kini Cuma tinggal tiga hari
Kuatkan hati.... agar semua penantianmu selama ini
tidak sia-sia
Kuburkan segala kegelisahanmu itu, hiruplah udara
segar ini agar engkau merasa tentram di dalam tubuhku, berikan respon yang
positif terhadap otakku
Malam ke 2 (sebelum bulan purnama)
Luh, di laut katanya banyak ikan warna warni. Di darat terlalu banyak orang
yang berpuisi lalu pilihlah aku sebagai kekasih mungkin saja tak jadi mati dan
hidup di dua-duanya lebih berarti. Bagimu ruang bagiku waktu. Adakah yang dapat
dibagi sebagai nilai rinduku?. Malam ini aku sudah terlanjur membuat kata-kata
romantis ditemani bunga-bunga di depan rumah serta angin yang berkesiur membawa
pekabar, hingga semuanya menjadi iri dan dengki. Mengapa setiap kali menatap
dan mengenagmu aku ingin jatuh cinta yang kesekian kali?
Malam ke 3 (pas bulan purnama)
Malam terakhir ini sudah datang kembali. Apakah kamu baik-baik saja, luh?.
Sehingga tidak ada halangan yang mau mendatangiku. Aku sudah bersiap-siap
menyambutmu. Aku sudah memakai baju yang paling indah untuk dilihat dan baru
malam ini orang yang pertama melihatnya adalah kamu. Jika kita berbincang
berdua di taman nampaknya aku sudah belajar cara yang paling romantis untuk
mengawali perjumpaan bersamamu. Pokoknya malam ini aku tidak ingin
mengecawakanmu. Titik.
Tarrrr......, “siapa itu?”. Ssst.......
“aku mencintaimu, maka aku akan menikahimu.”
Malang 01 juni
2012
0 comments :