* Stiawan
“ kau play boy, Di ” katanya Nurul.
Semenjak
kejadian itulah andi sering melamun, mengunci kamar, sampai-sampai dia
tak mau makan. Hari-harinya tak seperti hari kemarin. Kecerian dan
tawanya pun kembali dia kubur bersama desir angin. Wajahnya kusam,
badannya tak tak lagi setegar yang dulu, kurus begitu jelas tulang
punggungnya ketika dia sesekali membuka bajunya. Kata-katanya masih
melikat seperti lim melekat pada kayu. Namanya Nurul Angraini dia gadis
kelahiran Banuaju sekaligus Satu kelas dengannya. Wajahnya begitu anggun
memancarkan cahaya seperti bulan purnama di malam hari. Matanya yang
begitu elok dan kulitnya yang kuning langsat telah meluluhkan hatinya
saat dia bertemu tanpa sengaja di ujung senja Pantai Lombang. Sebab
itulah kenapa andi sering mengurung diri. Kesalah pahaman inilah telah
membuat hatinya Nurul seperti di duakan.
Saat
matahari mulai keluar menyingsing fajar, burung-burung mulai bertautan.
Sementara embun masih erat memeluk rerumputan. Angin pagi itulah
membawa andi dan Dinda ke suatu tempat di puncak. Tepatnya di bawah
pohon semanggi. Pertemuan itu bukanlah pertemuan dua hati satu cinta
melainkan karena kidaktahuannya Dinda dengan pelajaran di sekolahnya
membuat dia ingin belajar bersama dengannya. Sementara orang tuanya
sedang bekerja ke Malasyia. Karena itulah dia tak punyak teman belajar
di rumahya. Andi dan Dinda hanya saling menatap dalam diam. Saat Nurul
telah mendahuinya berkata. “ kau play boy, Di ”. Kemudian Nurul pun
pergi dengan hati kecewa. Airmatanya jatuh satu-persatu mengaliri
wajahnya yang anggun. Yang tersisa hanya seteguk nafas yang setia
menemaninya.
###
Dua bulan berikutnya, andi seperti daun kering yang gugur dari reranting peohonan. Seperti bunga yang layu karena lama tak di siram. Ia, saat ini dia seperti batu yang hanya diam dan erat memeluk kesunyian. Saat senja yang kedua telah datang. Dia mencoba berbagi rasa dengan buku hariannya. menuangkan dalam lembaran-lembaran yang lusuh. Dengan sedikit tetes airmata. Dalam catatan itu, dia menuliskan sesuatu buat kekasihnya.
Dua bulan berikutnya, andi seperti daun kering yang gugur dari reranting peohonan. Seperti bunga yang layu karena lama tak di siram. Ia, saat ini dia seperti batu yang hanya diam dan erat memeluk kesunyian. Saat senja yang kedua telah datang. Dia mencoba berbagi rasa dengan buku hariannya. menuangkan dalam lembaran-lembaran yang lusuh. Dengan sedikit tetes airmata. Dalam catatan itu, dia menuliskan sesuatu buat kekasihnya.
Jauh sebelum matahari memeluk bumi
Aku telah berjanji
Pada laut, pohon dan bintang di langitmu
Kelak akan ku ingat
Cintaku terdampar di pantai
Menunggu ciuman basah ombak
Bersama kenangan perahu retak
Ombaknya sangat kencang
Semisal angin musim hujan
Saat malam mendekap bulan dengan erat
Diantara cahaya itulah aku menunggumu
Tanpa kata-kata dan janji basah
Tanpa
terasa di minggu terakhir bulan ke-3 (tiga). Andi di bawah kerumah
sakit. Karena penyakitnya semakin parah. Dia terkenak penyakit Mag dan
serangan jantung. Masih seperti dulu angin dan kicau burung setia
sebagai pembawa kabar. Nurul terkejut mendengar kabar itu tepatnya saat
pagi mulai beranjak pergi. Aliran darahnya sepertinya berhenti mengalir.
Matanya redup sementara wajahnya begitu sayup.. Dan deru mobil itulah
telah membawa nurul sampai dimana andi sedang di rawat. Dia mulai
membuka pintunya pelan-pelan kemudian memeluknya dalam-dalam. Dia baru
sadar jika andi masih mencintainya seperti matahari dengan bumi. ketika
dia menerima catatannya tentang dirinya dari dinda. Dalam kesunyian
inilah saat semuanya masih menukar airmata dan infus yang setia meleka
di lengannya. Dia membisikkan kata-kata di dekat telinganya “ atas nama
cinta, aku mencintaimu,di. seperti adam dan hawa”. Hanya suara jam yang
terdengarkan setelah kata-kata itu telah mengisi kesunyian.
0 comments :