Monday, 17 June 2013

Atas Nama Cinta

Unknown     23:25    

* Stiawan

“ kau play boy, Di ” katanya Nurul.
Semenjak kejadian itulah andi sering melamun, mengunci kamar, sampai-sampai dia tak mau makan. Hari-harinya tak seperti hari kemarin. Kecerian dan tawanya pun kembali dia kubur bersama desir angin. Wajahnya kusam, badannya tak tak lagi setegar yang dulu, kurus begitu jelas tulang punggungnya ketika dia sesekali membuka bajunya. Kata-katanya masih melikat seperti lim melekat pada kayu. Namanya Nurul Angraini dia gadis kelahiran Banuaju sekaligus Satu kelas dengannya. Wajahnya begitu anggun memancarkan cahaya seperti bulan purnama di malam hari. Matanya yang begitu elok dan kulitnya yang kuning langsat telah meluluhkan hatinya saat dia bertemu tanpa sengaja di ujung senja Pantai Lombang. Sebab itulah kenapa andi sering mengurung diri. Kesalah pahaman inilah telah membuat hatinya Nurul seperti di duakan.

            Saat matahari mulai keluar menyingsing fajar, burung-burung mulai bertautan. Sementara embun masih erat memeluk rerumputan. Angin pagi itulah membawa andi dan Dinda ke suatu tempat di puncak. Tepatnya di bawah pohon semanggi. Pertemuan itu bukanlah pertemuan dua hati satu cinta melainkan karena kidaktahuannya Dinda dengan pelajaran di sekolahnya membuat dia ingin belajar bersama dengannya. Sementara orang tuanya sedang bekerja ke Malasyia. Karena itulah dia tak punyak teman belajar di rumahya. Andi dan Dinda hanya saling menatap dalam diam. Saat Nurul telah mendahuinya berkata. “ kau play boy, Di ”. Kemudian Nurul pun pergi dengan hati kecewa. Airmatanya jatuh satu-persatu mengaliri wajahnya yang anggun. Yang tersisa hanya seteguk nafas yang setia menemaninya.

                                                                   ###
            Dua bulan berikutnya, andi seperti daun kering yang gugur dari reranting peohonan. Seperti bunga yang layu karena lama tak di siram. Ia, saat ini dia seperti batu yang hanya diam  dan erat memeluk kesunyian. Saat senja yang kedua telah datang. Dia mencoba berbagi rasa dengan buku hariannya. menuangkan dalam lembaran-lembaran yang lusuh. Dengan sedikit tetes airmata. Dalam catatan itu, dia menuliskan sesuatu buat kekasihnya.
Jauh sebelum matahari memeluk bumi
Aku telah berjanji
Pada laut, pohon dan bintang di langitmu
Kelak akan ku ingat
Cintaku terdampar di pantai
Menunggu ciuman basah ombak
Bersama kenangan perahu retak
Ombaknya sangat kencang
Semisal angin musim hujan

Saat malam mendekap bulan dengan erat
Diantara cahaya itulah aku menunggumu
Tanpa kata-kata dan janji basah

            Tanpa terasa di minggu terakhir bulan ke-3 (tiga). Andi di bawah kerumah sakit. Karena penyakitnya semakin parah. Dia terkenak penyakit Mag dan serangan jantung. Masih seperti dulu angin dan kicau burung setia sebagai pembawa kabar. Nurul terkejut mendengar kabar itu tepatnya saat pagi mulai beranjak pergi. Aliran darahnya sepertinya berhenti mengalir. Matanya redup sementara wajahnya begitu sayup.. Dan deru mobil itulah telah membawa nurul sampai dimana andi sedang di rawat. Dia mulai membuka pintunya pelan-pelan kemudian memeluknya dalam-dalam. Dia baru sadar jika andi masih mencintainya seperti matahari dengan bumi. ketika dia menerima catatannya tentang dirinya dari dinda. Dalam kesunyian inilah saat semuanya masih menukar airmata dan infus yang setia meleka di lengannya. Dia membisikkan kata-kata di dekat telinganya “ atas nama cinta, aku mencintaimu,di. seperti adam dan hawa”. Hanya suara jam yang terdengarkan setelah kata-kata itu telah mengisi kesunyian.

* Buat seseorang yang selalu dekat di jiwaku

0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.