Manusia adalah mahluk yang sempurna di bandingkan dengan
mahkluk yang lain yang ada di
atas muka bumi ini, sebab manusia mempunyai suatu kelebihan
yaitu akal yang berfungsi untuk
untuk berfikir.
Sehingga manusia lebih nyaman dengan menggunakan akal untuk
mengatasi segala masalah
yang di hadapinya dimana akal dengan sifat alaminya akan
mampu membedakan antara kebaikan
dan keburukan atau antara sesuatu yang baik dan yang buruk,
jika tidak demikian maka hilanglah
Sehingga dari karakter terssebut manusia terkadang bersifat
altruisme dan terkadang
pula bersifat egoisme sebagai penegas dari eksistensi diri
didalam sisiologis bagi prilaku etik di
dalam diri manusia. Karena manusia akan selalu beranggapan
benar ketika apa yang ada dalam
fikirannya benar dan salah ketika fikiranya beranggapan
salah dengan melalui pertimbangan-
pertimbangan yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
(Mutawalli. A., 2012 dalam Ibnu miskawih. 1030) mengatakan
bahwa dalam diri
manusia terdapat dua karakter, yaitu inderawi dan rasional,
sisi inderawi menyerupai dunia
hawan, dimana ia ddalam mencari kesenangan inderawinya
berbeda dengan sisi akal yang
menyerupai dunia malaikat dimana dalam mencari kesenangan
rasional dengan kabahaigiaan
yang menjadi kabaikan tertinggi dalam diri manusia sebagai
mahluk berakal.
Jadi menurut penulis disini jika manusia melakukan suatu
perbuatan yang baik berarti
manusia lebih mengutamakan sisi akal dari pada kesenangan
inderawinya. Sehingga mampu
berfikir dengan baik untuk mencapai suatu keutamaan didalam
jiwanya. Dimana suatu
keutamaan itu sangat bertentangan dengan dengan keinginan
inderawi yang ada dalam diri
manusia. Sehungga bila keutamaan itu sudah menjadi kebiasaan
dalam jiwa maka manusia akan
selalu merasa senang dengan seatu keutamaan dan selalu
marasa terbuka dengan suatu
keutamaan sehingga selalu merasa senang dengan indahnya
keutamaan. Karena jiwa sudah
terlatih dengan suatu kebiasaan yang etis.
Begitu pula sebaliknya jika dalam diri manusia yang muncul
adalah perbuatan perbuatan
yang jelek berarti naluri hayawani atau lebih mengejar
kesenangan inderawi yang keluar dalam
diri manusia. Menganggap kesenagan inderawi sebagai kebaikan
tertinggi di dalam jiwanya
sehingga disini mannusia selalu terperosok dengan
perilaku-perilaku tercela akibat dari persepsi
dari asumsi yang menganggap kesenangan inderawi adalah
kebikan terringgi yang harus di kejar
dan harus terpenuhi.
Didalam hal ini secara tidak langsung menganggap baik setiap
keburukan sehingga manusia
lebih mudah tunduk pada kesenangan-kesenangan inderawi . dua
karakter dalam diri manusia inilah
yang mengakibatkan mannusia sering beruba-ubah dalam
menampilkan eksistensi dirinya kadang tampil
seperti malaikat yang selalu mencintai kebenaran dan kadang
pula tampil seperti layaknya hewan yang
bersikap apatis pada orang lain demi ego yang ada dalam
dirinya.
oleh: nikris riviansyah
0 comments :