Monday, 17 June 2013

Antara dunia hewan dan malaikat dalam diri manusia

Unknown     22:27    


 Manusia adalah mahluk yang sempurna di bandingkan dengan mahkluk yang lain yang ada di
atas muka bumi ini, sebab manusia mempunyai suatu kelebihan yaitu akal yang berfungsi untuk
untuk berfikir.
Sehingga manusia lebih nyaman dengan menggunakan akal untuk mengatasi segala masalah
yang di hadapinya dimana akal dengan sifat alaminya akan mampu membedakan antara kebaikan
dan keburukan atau antara sesuatu yang baik dan yang buruk, jika tidak demikian maka hilanglah
kebutuhan manuisa terhadap suatu akal.

Sehingga dari karakter terssebut manusia terkadang bersifat altruisme dan terkadang
pula bersifat egoisme sebagai penegas dari eksistensi diri didalam sisiologis bagi prilaku etik di
dalam diri manusia. Karena manusia akan selalu beranggapan benar ketika apa yang ada dalam
fikirannya benar dan salah ketika fikiranya beranggapan salah dengan melalui pertimbangan-
pertimbangan yang ada dalam diri manusia itu sendiri.
(Mutawalli. A., 2012 dalam Ibnu miskawih. 1030) mengatakan bahwa dalam diri
manusia terdapat dua karakter, yaitu inderawi dan rasional, sisi inderawi menyerupai dunia
hawan, dimana ia ddalam mencari kesenangan inderawinya berbeda dengan sisi akal yang
menyerupai dunia malaikat dimana dalam mencari kesenangan rasional dengan kabahaigiaan
yang menjadi kabaikan tertinggi dalam diri manusia sebagai mahluk berakal.
Jadi menurut penulis disini jika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik berarti
manusia lebih mengutamakan sisi akal dari pada kesenangan inderawinya. Sehingga mampu
berfikir dengan baik untuk mencapai suatu keutamaan didalam jiwanya. Dimana suatu
keutamaan itu sangat bertentangan dengan dengan keinginan inderawi yang ada dalam diri
manusia. Sehungga bila keutamaan itu sudah menjadi kebiasaan dalam jiwa maka manusia akan
selalu merasa senang dengan seatu keutamaan dan selalu marasa terbuka dengan suatu
keutamaan sehingga selalu merasa senang dengan indahnya keutamaan. Karena jiwa sudah
terlatih dengan suatu kebiasaan yang etis.
Begitu pula sebaliknya jika dalam diri manusia yang muncul adalah perbuatan perbuatan
yang jelek berarti naluri hayawani atau lebih mengejar kesenangan inderawi yang keluar dalam
diri manusia. Menganggap kesenagan inderawi sebagai kebaikan tertinggi di dalam jiwanya
sehingga disini mannusia selalu terperosok dengan perilaku-perilaku tercela akibat dari persepsi
dari asumsi yang menganggap kesenangan inderawi adalah kebikan terringgi yang harus di kejar
dan harus terpenuhi.

Didalam hal ini secara tidak langsung menganggap baik setiap keburukan sehingga manusia
lebih mudah tunduk pada kesenangan-kesenangan inderawi . dua karakter dalam diri manusia inilah
yang mengakibatkan mannusia sering beruba-ubah dalam menampilkan eksistensi dirinya kadang tampil
seperti malaikat yang selalu mencintai kebenaran dan kadang pula tampil seperti layaknya hewan yang
bersikap apatis pada orang lain demi ego yang ada dalam dirinya.


oleh: nikris riviansyah

0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.