Pelindung
(komisariat PMII COUNTRY UNITRI)
Penanggungjawab
(Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil)
Pemred
Imam Jazuli
Sekred
Novia sulaimah
Redaktur
Pelaksana
Latif Yanto
Faidi
Munawara
Reporter
Moh.farid
Agus
Sulaiman
Farid al-basyari
Illustrator
Moh. Faiz
SALAM
REDAKSI
Alhamdulillah puji syukur kepada
tuhan yang maha esa, karena berkat beliaulah kita masih masih bisa beraktivitas
sebagaimana mestinya. Dengan nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan
beliau kita juga masih bertutur sapa lewat media ini.
Tidak
lupa kita mengucapkan shalawat kepada rasul/nabi dan sekaligus sahabatbeliau,
karena berkat belia juga kita diperkenal dengan aneka ragam ilmu pengetahuan
seperti yang dirasakan saat ini.
Dalam perbincangan kali ini media
onlie dan madding rayon fisip ad-dakhil akan coba kembali membahas terkait
dengan masalah media, baik itu media cetak, elektronik ataupun media online.
Sangat tidak asing lagi bagi kita mendengar kata-kata tersebut. Karena memang
pembahasan kali ini sangatlah erat kaitannya dengan dengan aktivitas kita
sehari-hari, yakni 99 o/o persen suguhan mengenai tentantang media hamper
setiap waktu kita merasakannya. Konsumsi yang sangat besar kiranya yag diambil
dan dirasakan oleh kita mengenai tentang media. Dan patut kiranya kita membahas
hal ini.
Harapan kita kepada media adalah
bagaimana media menjadi tempat mengakses informasi denga mudah dan baik dan
bagaimana komunikasi kita bisa lancer dengan adanya media. Tetapi perlu
diketahui kepada para pembaca yang budiman bahwa saat sekarang merupakan sebuah
taming untuk kepentingan seseorang untuk bagaimana mempromosikan dirinya atau
orang lain dalam hal kepentingan individual. Disiilah sehingganya media
dijadikan ajang untuk merebut kekuasaan. Seringkali dalam media ada
pengelabuhan-pengelabuhan, ada penipuan-penipuan yang tidak sepantasnya
diapload dalam media. Kita sebagai masyarakat yang mempunyai kapasitas keilmuan
yang cukup, maka sepatutnya kita menganilisis kembali terkait informasi yang
kita dapatkan. Mungkin saja ada sesuatu yang tidak layak untuk kita konsumsi
dalam media tersebut. Kita wajib telita dalam hal ini. Biar kedepanya tidak ada
persepsi jelek tentang seseorang ataupun sekolompo orang. Memang tidak semua
media ataupun yang informasi yang kita akses buruk semua. Tapi kita hanya menjaga-jaga
dan menganilisis kembali hal tersebut.
Dari pengantar diatas maka kami crew madding rayon fisip
ad-dakil mengangkat sebuah tema tentang :
“literasi media: meretas dan menjawab tantangan media commodity”. dan
penerbitan madding kali ini merupakan terbitan yang ke VI.
Dalam edisi kali kali ini sangatlah
pantas kiranya jika para pembaca yang arif utuk membaca secara tuntas. Karena
dalam edisi kali ini merupakan tentang media yang diakses oleh kita dalam
keseharian. Permohonan maaf kepada para pembaca jika terbitan kali ini
terlambat, tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Karena ada banyak
kesibukan-kesibukan tersendiri di internal crew madding. Maka tidak mengurangi
rasa hormat jika para pembaca memberikan keritikan yang konstruktif kepada kami
selaku crew. Kritikan dan saran selalu kami tunggu di meja tugas. Oleh karena
itu apabila ada tutur kata yang tidak sesuai mulai dari depan sampai belakang
tulisan ini saya mewakili semua crew madding engucapkan mohon maaf yang tiada
tara.
Wassalam……..
Selamat
mebaca!!! (red)
INFORMASI
KEGIATAN RUTINITAS
RAYON FISIP ADDAKHIL:
No
|
Nama
Kegiatan
|
Hari
Pelaksanaan
|
Jam
|
01
|
English club
|
Sabtu
|
15.00 wib
|
02
|
Kajian isu sospol
|
Malam rabu
|
19.00 wib
|
03
|
Diskusi fakultatif
|
Selasa
|
15.00 wib
|
04
|
Reading book together
|
Minggu
|
15.00 wib
|
Seluruh crew dan
pengurus Rayon Fisip Ad-Dakhil mengucapkan selamat kepada terpilihnya:
Bambang Sugito (sebagai ketua HMJ tekhnik kimia
terpilih)
Hidayatullah (sebagai ketua HMJ
tekhnologi industri pertanian terpilih)
Luthfi (sebagai
ketua HMJ manajemen terpilih)
(semoga kalian semua
menjadi ketua HMJ yag benar-benar berkompeten dan professional dalam
menjalankan gerak-gerak organisasi)
ARTIKEL
Literasi Media:
Meretas dan Menjawab
Tantangan Media Commodity
Oleh: Latif Fianto*
Sebuah Pengantar
Literasi secara mendasar dapat diartikan
sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Secara teknis, literasi dapat
dipahami sebagai kemampuan memecahkan kode, simbol atau huruf yang digabungkan
menjadi kata-kata. Dari sejarah kemunculannya, literasi mempunyai peran yang
sangat signifikan dalam komunikasi tertulis.
Dalam perkembangannya, literasi media
merupakan pengetahuan dan kemampuan memahami serta menggunakan media secara
baik dan benar yang harus dimiliki oleh setiap individu. Artinya, literasi
media tidak sesederhana istilah melek huruf seperti selama ini dipahami.
Literasi media tidak hanya berkutat pada kemampuan mengerti teks media saja.
Dalam hal ini teks media bukan hanya berbentuk huruf saja namun juga audio
visual.
Media dan Lingkaran
Kepentingan Dalam Lembaga Media
Berbicara masalah media tentu tidak
lepas dari bit-bit informasi yang diproduksi dan direproduksi setiap saat.
Entah itu media cetak maupun media elektronik, dua-duanya merupakan lumbung
informasi yang sarat dengan bias dan hiperrealitas. Bukan sekadar itu, ternyata
dalam media massa ada banyak kepentingan yang sengaja diselipkan.
Ada banyak pertarungan politik dalam
media. Politik ekonomi, politik praktis, politik identitas dan sebagainya. Apalagi
perkembangan dan reproduksi bit-bit informasi di media elektronik semakin tidak
terbendung. Beragam konten media massa adalah topik yang tak pernah ada
habisnya diperbincangkan.
Era digital telah membawa media massa
pada tingkat produksi dan reproduksi ide yang semakin mudah dan cepat. Sebut
saja televisi. Televisi menjadi media yang paling banyak menyedot pikiran dan
perhatian setiap orang. Setiap waktu tidak henti-hentinya ia menumbuhkembangbiakkan
berjuta-juta hiburan, ide, gaya ataupun informasi. Di dalamnya sudah berisi
bit-bit informasi yang tak terhingga jumlahnya.
Televisi adalah salah satu contoh media
massa yang selalu melakukan reproduksi ide, gaya, dan informasi. Ketiga hal tersebut
menjajah pikiran setiap orang dan kemudian bereproduksi di sana. Tidak peduli
apakah informasi tersebut memberikan kontribusi positif pada peningkatan
kualitas dan kesejahteraan setiap orang yang menontonnya. Sebab yang terpenting
ide, gagasan ataupun informasi tersebut menemukan tempatnya dalam benak setiap
orang. Mihaly Csikszentmihalyi (1993:136) mengatakan, “pikiran (mereka) dijajah
oleh citra gemerlap di layar, dan ia akhirnya tidak bisa lagi melakukan apa-apa
selain menekan tombol dan menonton.”
Kondisi yang demikian jelas berangkat dari
berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya. Contoh kecil, dewasa ini
tayangan televisi tidak terlalu mengutamakan indikator kegunaan bagi
kesejahteraan dan kualitas hidup setiap orang melainkan bersandar pada
kepentingan ekonomi dan politik. Beragam kepentingan tersebut sudah barang
tentu bersumber dari pemilik media atau pemilik modal dalam media tersebut dan
sistem pasar yang digerakkan oleh paham kapitalisme. Dalam frame yang sama, Marxisme pun menyuguhkan sebuah perspektif faktual
bahwa ada kepentingan ekonomi dan politik dalam lembaga media.
Adanya kepentingan-kepentingan seperti
inilah yang menimbulkan lubang-lubang memungkinkannya kebenaran yang tidak
sebenarnya atau kebenaran semu. Artinya, ketika setiap ide yang diproduksi dan
disajikan pada setiap orang terus menerus berdasarkan kepentingan ekonomi dan
politik, maka media tidak lagi memberikan kebenaran atau fakta apa adanya,
melainkan ada upaya untuk menciptakan peristiwa, menafsirkan dan mengarahkan
terbentuknya kebenaran.
Kepentingan ekonomi yang demikian dapat
pula terlihat dari penggunaan ‘rating’ sebagai barometer keberhasilan sebuah
produksi ide dalam industri pertelevisian. Rating menjadi tolok ukur untuk
menilai apakah produksi ide (program tayangan) tersebut mempunyai nilai jual
yang bagus dan mampu bersaing di pasaran. Ketika rating naik dan semakin
bertambah maka jam tayang pun akan semakin panjang.
Hal ini yang kemudian menjadi tuntutan
bagi para pekerja industri pertelevisian untuk selalu berinovasi memproduksi
program. Kualitas dan kreatifitas pekerja media diukur dari sejauh mana program
yang diproduksi mendulang rating yang tinggi. Oleh karena hanya rating yang
dijadikan logika keberhasilan program tayangan televisi maka para pekerja tidak
jarang mengesampingkan kualitas program yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Bahkan nyaris semua program televisi dipenuhi hal-hal magis, kekerasan,
eksploitatif, seksualitas, sensualitas, pertengkaran, dan dramatisasi.
Program tayangan televisi yang seperti
ini sudah masuk dalam kategori hiperrealitas. Sebut saja program sinetron, reality show, komedian dan sebagainya. Semuanya
berkembang biak melebihi kebutuhan manusia. Program-program televisi tidak lagi
bersandar pada nilai kegunaan dan kebutuhan melainkan sudah bergeser pada
sesuatu yang melewati batas (overshoot).
Overshoot
semacam ini akan menimbulkan krisis dan obesitas informasi. Yaitu suatu kondisi
dimana informasi tidak lagi mempunyai makna dan arah. Nilai-nilai yang
terkandung dalam informasi tersebut menjadi kabur dan tidak dapat dipahami.
Hampir seluruh program tayangan televisi
bergeser dari nilai kegunaan kepada nilai-nilai komoditi ekonomi. Akibatnya,
program yang ditayangkan adalah program yang sebagian besar bergenre hiburan,
kuliner, games, serta program-program yang terkesan fiktif dan dibuat-buat yang
secara rasional tidak cukup memberikan kontribusi besar pada taraf
kesejahteraan masyarakat. Masyarakat hanya digirng pada kepentingan sepihak
pemilik media saja.
Suatu contoh perbandingan. Jam tayang
program spiritualitas, hasil penelitian, kreatifitas anak bangsa di beberapa
televisi ternyata lebih pendek dibandingkan dengan tayangan program reality show, sinetron dan komedian. Hal
ini adalah suatu eroni. Ketika program yang sebenarnya secara esensi banyak
memberikan makna hidup pada setiap orang ternyata jam tayangnya lebih sedikit
dibanding program yang menjurus pada pola hidup konsumtif.
Literasi Media: Sebuah
Upaya Memahami Media
Menghadapi produksi media yang semakin
hari semakin berorientasi pada komoditas ekonomi dan penyebaran ideologi
dominan, maka urgen sekali setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami
media. Kemampuan untuk menyaring, memilah dan memilih informasi atau
pesan-pesan yang terdapat di media massa, baik cetak maupun elektronik. Inilah
sebenarnya esensi dari literasi media.
Kemampuan untuk menyeleksi setiap pesan
atau informasi dalam media ini tentu berangkat dari taraf kekritisan masyarakat
dalam menggunakan media. Para pengguna media harus cerdas dan selektif dalam
memilih informasi. Cerdas dan selektif dalam artian, minimal seorang pengguna
media perlu menyelidiki segmentasi audiens dari informasi tersebut; perlu juga
mempertanyakan kandungan informasinya; siapa yang ada dibalik informasi
tersebut; lalu ideologi dan nilai-nilai apa yang melatarbelakangi informasi
tersebut.
Ada beberapa konsep yang perlu diketahui
untuk membangun kemampuan literasi media, bahwa media tidak pernah netral.
Media dan ide yang diproduksi tidak pernah berdiri sendiri dan lepas dari
konstruksi kepentingan, ideologi, kepemilikan dan tendensi komersial. Mengutip Alex
Sobur (2001), bahwa secara teoritik, konten dan makna-makna yang dibawa melalui
media ditentukan oleh basis ekonomi dari organisasi yang menciptakan atau
membiayai. Akibatnya publik digiring pada konsensus yang menguntungkan mereka.
National
Association for Media Literacy Education (NAMLE) memandang
literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi yang di dalamnya
terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan
mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, baik informasi media cetak
maupun non cetak (http://namle.net).
Berangkat dari pandangan NAMLE tersebut, maka literasi media menjadi sangat
naif untuk dipelajari jika tidak memiliki kemampuan mengakses pesan atau
informasi. Nah setelah mampu
mengakses informasi, setiap orang dituntut untuk mampu menganalisa,
mengevaluasi dan mengkomunikasikan hasilnya agar pengakses informasi tidak
terjebak sendiri dalam informasi tersebut.
Dengan demikian, mempelajaari literasi
media sangat penting di zaman ini. Zaman yang tidak lagi terjadi ekspansi informasi,
melainkan apa yang disebut Jean Baudrillard (dalam Yasraf: 2011:83) sebagai
implosi, yaitu semacam kondisi ruang yang di dalamnya manusia bersama wahananya
tidak lagi menjelajahi teritorial dengan cara ekspansi, akan tetapi
teritorial-teritorial yang telah dikuasai batasnya, justru meledak ke dalam dan
mengerumuni manusia layaknya magnet, melalui simulasi elektronik. Atau meminjam
istilah Paul Virilio, bahwa manusia sekarang itu seperi kutub inersia. Yaitu
sebuah titik di mana subjek, menampung, menahan, menyerap setiap zat dan
gerakan yang datang (informasi, tontonan, gaya) lewat simulasi elektronik.
Pengetahuan dan kemampuan akan literasi
sangat penting. Dengan kemampuan literasi media, Pertama, masyarakat akan menjadi audiens yang aktif dan selektif. Kedua, masyarakat mampu membangun
kesadaran dan pola pikir yang kritis dalam merespon isi media. Ketiga, masyarakat bisa menentukan isi
media yang sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatan bagi dirinya. Keempat, masyarakat menjadi cerdas dalam
mengontrol isi media dan tidak mudah terkontaminasi oleh propaganda informasi
isi media. Kelima, untuk membangun
generasi berikutnya yang tangguh dan siap hidup dalam kungkungan dan gelombang
dahsyat media.
Dalam membangun kemampuan literasi media, James Potter
(2001) membagi struktur pengetahuan ke dalam tiga kategori guna mendukung
perspektif literasi media. Pertama, pengetahuan
tentang isi atau konten media. Kedua,
pengetahuan tentang industri media. Ketiga,
pengetahuan tentang efek media.
Dari ketiga struktur pengetahuan yang ditawarkan Potter,
dapat diambil sebuah konklusi konkret bahwa kemampuan literasi media dibangun
dari pemikiran kritis atas setiap konten yang disajikan media. Artinya, masyarakat
harus mampu menganalisa dan menginterpretasi isi pesan, mengetahui proses
industrialisasi media hingga pada ekses-ekses yang ditimbulkan oleh media.
Akhirnya, untuk menghadapi implosi informasi media,
setiap orang harus memiliki kemampuan literasi media yang mapan. Dengan
literasi media, masyarakat akan memahami
bahwa seluruh ide yang diproduksi media adalah representasi dari konstruksi
realitas. Hasil rekonstruksi akan sangat berbeda dengan realita yang
dikonstruksi.
Berangkat dari paradigma tersebut, seyogyanya literasi
media tidak hanya menjadi wacana retoris belaka melainkan mampu dikejawantahkan
dan disebarluaskan kepada masyarakat secara masif dan kontinuitas. Pemahaman akan
petingnya literasi media, menjadikan masyarakat yang cerdas dan selektif dalam
menfilter terpaan media yang berlalu lalang dengan volume intensitas yang
sangat tinggi.
*Latif Fianto, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Malang dan Ketua Umum IMIKI Cabang Malang.
CERPEN
TERSINA
:Imam
J. Larat
-“Aku
mencintaimu, Bukan untuk menikahimu!”.
+”Kenapa?”.
Apakah ada yang salah dengan diriku? Atau mungkin aku sudah tidak layak buat
kamu: kurang cantik atau memang dari segi penampilanku yang pas-pasan. Aku
butuh jawabanmu yang dapat diterka oleh akal fikiran.
-bukan..!
kamu bukan kurang cantik atau sudah tidak layak di mataku. Bagiku cantik dan
jelek tidak jadi masalah. Karena bukan cantik yang membawa cinta, tapi cinta
yang membuat seseorang menjadi cantik.
+lalu
kenapa?
-aku
masih tidak bisa melupakan masa laluku meski sedih. Karena masa lalu menurutku
tetap hadiah meski sedih. Jadi mengertilah perasaanku.
-“ya,
aku mengerti.” Memang butuh waktu untuk melupakannya hingga kau benar-benar
jadi milikku seutuhnya. Aku masih sabar menunggumu walau itu sangat
menyakitkan. Aku sangat percaya dan optimis bahwa cintamu hanya untukku.
Ya, semenjak pertemuan sekaligus
percakapan itu kesepian meronta di badanku. Lama-lam makin melemah saja. Aku
harap ini tidak berkelanjutan sampai benar-benar usiaku genap 20 tahun. Dan
sepertinya sudah menginjak bulan ke-2; februari. Dan Bulan mendatang kehidupan
yang baru akan benar datang tanpa disangka dan diundang. Kamu tahu?. Di sisa
yang genap 20 tahun aku segera dinihkan dengan peria yang tak kukenal. Itsss...,
bukan itu maksudku. Masalahnya aku tidak mencintainya. Maka dari itu aku lebih
suka kesunyian melamun di dalam kamar. Ah, membuatku tak bergairah saja.
Seandainya kau datang pada malam ini dan mengucapkan kata yang kutunggu “aku
mencintaimu, maka aku akan melamarmu.” Mungkin saja rinduku berburuh di jendela
beserta angin mamiri saling berkejaran meminpin hati kita.
+kau
melamun?. Tidurlah, malam sudah larut. Aku tidak ingin anak sematawayangku
jatuh sakit karena kerasukan. Malam bukan pelarian, hanya tidur membuatmu lebih
tenang.
-ia.
Sejauh
ini aku tahu maksudnya. Karena ini adalah perintah bapakku sendiri, rasanya
tidak sopan menolaknya. Lebih baik aku tidur berbagi rasa dengan kesepian dan
esok hari aku takkan berhenti berharap kau memang datang. Dan jika kau tidak
datang, aku sendiri yang akan mendatangi rumahmu sambil kubelai rambutmu
sejengkang dari jendela. Biar bunga diluar lebih mekar ingin memastikan apa
saja yang kita lakukan di dekat jendela. Cuma satu yang ingin kuinginkan
darimu, yaitu: sebuah kata “cinta.” Itu saja sudah cukup mengobati
kegelisahan-kegelisahan dalam diri. Tapi kata itu kayaknya terlalu sulit bagimu
untuk diucapkan.
Apa
aku kurang........???
Ih,
melamun lagi, melamun lagi. Rasanya hidup ini hanya andai-andai saja, mimpi mungkin?.
Mestinya aku berbuat sesuatu untuk mendapatkannya, bukan hanya mealamun dan
terus melamun.
Tunggu
aku, jika besok kau tidak datang, maka aku yang akan mendatangi. Malam ini aku
sudah bersumpah demi mendapatkanmu; aku rela melakukan apa saja. Seandainya
engkau tahu betapa aku sangat mengharapkanmu menjadi penolong di hari-hari
kritis ini. Bawalah aku kemana saja sesukamu. Dan sebelum kau tidur maka
ingatlah namaku “TERSINA” dan akupun akan mengingatmu “BAPULUH.”
Diluar sana malam mulai berenang menjemput
siang, sementara kesunyian masih terbaring di reranting pohon salak
menggantungkan dirinya tanpa sehehelai kain tipispun. Apalagi yang terfikrkan
kecuali menunggu. Seperti air yang juga terus saja mengalir tanpa letih
menginjakkan kakinya di tanah dan bebatuan. Langit sekarang benar-benar tidak
menangis, sebab tidak ada waktu yang tepat menjalankan ritual itu. Hanya
remang-remang menanti siang datang.
+kau
mau kemana?
-aku
tidak mau kemana-mana, hanya ingin mencari angin segar di dekat perkebunan.
+Berangkatlah,
jangan lama-lama!, aku tidak ingin kamu kenapa-napa.
***
Siang begitu indah untuk dinikmati,
hanya lalu lalang kendaraan yang membikin orang jadi stres sebab kebisingan
panjang tanpa aturan. Seandainya negeri ini tidak ada polusi mungkin saja hidup
kita akan nyaman dan dapat menghirup udara segar di pagi hari. Semenjak
kemerdekaan indonesia pada tahun 1945 itulah kenyamanan dan ketentraman yang
dirasakan rakyat pertama kali. Sebab kebebasan benar-benar tercapai di negeri
kita.
Dimana
kau, luh?
Apakah
kamu tidak akan datang kemari?
“Temuilah
aku disini, jemputlah dan katakan cinta” sampai kapan aku menantimu disini.
Seandainya penantianku tidak akan membawa kesia-siaan maka sampai matahari
menyingsing dan terbit lagi aku tetap menunggumu. Aku orangnya tidak sabarabn
jika perbuatan itu masih tidak dalam kepastian. Jika engkau tidak datang maka
tunggulah aku di tempatmu.
Sebenarnya aku tidak pantas
melakukan ini, luh!. Akau tahu bahwa aku adalah seorang perempuan; seorang
perempuan yang mengharapkan cinta darimu. Tidak selamanya seoarng perempuan
menunggu kan?. “itu budaya tidak baik”, biar posisimu aku gantikan pada hari
ini. Ibaratnya aku sekarang menjadi peminpin dalam ketakutan: takut kau tidak
datang, takut kau akan mengingkari janjinya, takut kau tidak mengatakan cinta,
dan takut aku dinikahkan dengan peria yang bukan pilihanku. Kuberi waktu kau 25
menit dan jika masih tidak ada maka tinggal giliran niatku yang akan berjalan.
Biarpun banyak orang mengatakan bahwa aku perempuan murahan, perempuan pengemis
cinta itu tidak jadi masalah asalkan aku bisa meraih cita-cita itu. Bukankah
kebahagian itu sempurna ketika kita menikmatinya bersama seseorang yang kita
cintai. Maka kau harus belajar membalas budiku dan usahaku yang layak dengan
usahaku.
--------------------------
Matahari di luar adalah saksi cinta
Menusuk-nusuk, menghangatkan dalam bara
Sementara aku disini berenang mengubur
kegelisahan
Tanpa sadar aku sudah duduk berjam-jam
Luh, dimana kau?
Disini kesepian sudah mulai mencengkeram
Memupuskan harapan
Kabari aku luh!
Jangan biarkan kesabaranku memuncak
Lalu rinduku sedikit berkurang
Dan demi cinta
aku rela menderita
--------------------------------
Apakah
aku tidak salah melihat, kau benar datang, luh?. Kemarilah duduk di sampingku,
ada sebuah rahasia yang sanagat penting untuk kusampaikan kapadamu dan kuharap
engkau dapat bertanggungjawab atas segala perbuatanmu. Bukannya aku memaksa,
tapi aku memang sudah terlanjur bermain air sementara wadahmu khusus kurenangi
sudah kering. Sekarang sudah waktunya engkau mengaliri kesekujur tubuhku
mumpung gerimis sekarang masih menangis, sebentar lagi hujan badai akan segera
datang. Sebenarnya aku ingin memelukku, menciumimu, menikmati aroma tubuhmu,
sehingga seutuhnya kau terpekur di hatiku. Namun aku masih ingat bahwa kita
masih belum resmi menjadi sepasang kekasih. Jadi biar rasa bahagia ini kutahan
sampai nanti setelah waktunya tiba dan kita leluasa melakukan apa saja.
+”katakan, katakanlah, luh!” bahwa kau
mencintaiku lalu kau akan menikahiku sebelum aku pingsan dipangkuanmu. Buatlah
satu kali ini saja aku merasa bahagia; bahagia yang mungkin orang lain tidak
pernah merasakan sebelumnya. Karena kebahagiaan itu sangatlah relatif. Atau kau
minta aku yang mengecup bibirmu terlebih dulu.
- “sebenarnya aku juga mencintaimu”,
namun aku harus mempertimabangkan keputusanku ini. Kuharap kau memahami
keadaanku. Ada sebuah alasan yang mungkin tidak bisa kukatakan padamu saat ini.
Setelah tepat waktunya semua akan terungkap dan salah satu orang yang tahu
lebih dahulu adalah dirimu selain diriku. Aku menjaminnya.
+”tenanglah, luh!” Kapan sih aku yang
tidak memahami perasaanmu. Lakukanlah yang engkau mau. Aku paling luluh
terhadapmu, sulit sekali aku menolak segala keputusanmu. Aku sangat yakin dan
percaya bahwa cintamu akan menjagaku. Maka lakunlah, aku masih saja setia
menunggumu.
Ya,
tiga hari lagi bulan Purnama akan datang, dan aku harus menunggu lagi yang
kesekian kalinya. Sebenarnya aku tidak suka menunggu terlalu lama. Tapi
semenjak aku kenal denganmu, luh. Nampaknya aku memang diajari untuk terus
bersabar dan terus bersabar. Dan segala tindakan pasti ada konsekwensi dan
resikonya lalu tergantung kita untuk memilih apa. Diam juga merupakan sebuah
pilihan. Jadi antara diam dan tidak itu sama. Tetapi bagaimana kita mengambil
keputusan secara bijaksana. Itulah kata-kata yang selalu kamu katakan kepadaku.
Dari saking sringnya aku tidak usah menghafal dan ditulis di memory bookku.
malam ke I (Sebelum Bulan Purnama)
Nampaknya
kegelisahan mulai tumbuh sedikit demi sedikit meski aku sangat percaya dengan
semua kata-katamu. Tapi hati ini tidak dapat dipungkiri rasa itu sungguh
membuatku kefikiran. Akankah kau akan menepati janjimu. Yang selama ini harus
kutunggu dengan penuh kesabaran serta menahan segala emsiku yang sudah
memuncak.
Sabarlah hati.... kini Cuma tinggal tiga
hari
Kuatkan hati.... agar semua penantianmu
selama ini tidak sia-sia
Kuburkan segala kegelisahanmu itu,
hiruplah udara segar ini agar engkau merasa tentram di dalam tubuhku, berikan
respon yang positif terhadap otakku
Malam ke 2 (sebelum bulan purnama)
Luh,
di laut katanya banyak ikan warna warni. Di darat terlalu banyak orang yang
berpuisi lalu pilihlah aku sebagai kekasih mungkin saja tak jadi mati dan hidup
di dua-duanya lebih berarti. Bagimu ruang bagiku waktu. Adakah yang dapat
dibagi sebagai nilai rinduku?. Malam ini aku sudah terlanjur membuat kata-kata
romantis ditemani bunga-bunga di depan rumah serta angin yang berkesiur membawa
pekabar, hingga semuanya menjadi iri dan dengki. Mengapa setiap kali menatap
dan mengenagmu aku ingin jatuh cinta yang kesekian kali?
Malam ke 3 (pas bulan purnama)
Malam
terakhir ini sudah datang kembali. Apakah kamu baik-baik saja, luh?. Sehingga
tidak ada halangan yang mau mendatangiku. Aku sudah bersiap-siap menyambutmu.
Aku sudah memakai baju yang paling indah untuk dilihat dan baru malam ini orang
yang pertama melihatnya adalah kamu. Jika kita berbincang berdua di taman
nampaknya aku sudah belajar cara yang paling romantis untuk mengawali
perjumpaan bersamamu. Pokoknya malam ini aku tidak ingin mengecawakanmu. Titik.
Tarrrr......, “siapa itu?”. Ssst.......
“aku mencintaimu, maka aku akan
menikahimu.”
Malang 01 juni 2012
PUISI IMAM J.
LARAT
MEMINANGMU
Beberapa kata di mulutku tumpah
Menawar pekat dingin malam waktu ini
Senantiasa kutulis beribu-ribu sajak
Walau semuanya tak tuntas menjadi puisi
Setidaknya pengobat rindu kepadamu
Lewat labirin sunyi
Aku mulai ritualku yang sangsai tertindas duka
Membuka catatan pagi
Serta lukisan-lukisan Elang pembawa kabar
Aku membacanya dengan ragu-ragu
Takut ada yang cemburu
Badan mendidih buncah
Menggenapi gemetar bibir dan perasaan gelisah
Rasanya malam ini
Aku ingin bermain petak umpet bersamamu, berdua
Menghilangkan kalut
Meramaikan suasana hening menakutkan
Sepi telah mengurungku beberapa hari
Mencincang tubuhku untuk menemuimu
;pemburu rindu yang mahir seantero jagat
Untuk menaklukkan pemiliknya
Dan itu adalah kau :maha kasih
Dini malam
Aku akan bermunajat kepada Tuhan
Supaya hari esok
Do’aku terkabulkan
“yaitu meminangmu”
Bukan hanya menemuimu
Agar antara aku dan kau ada ikatan
Biar semua tahu
Bahwa aku sudah insyaf mantan brutal
Dari segala kisah mengerikan
Oleh itu
Aku minta aminmu
Supaya lekas Tuhan mengatakan setuju
Menjadi raja dan ratu
Hingga akhir jaman nanti
Lubangsa, 2010
Piring Telah Pecah
Piring telah pecah
Kukemas lagi dalam ingatan
Sesegera kilat menyambar kala hujan
Serta kubungkus dalam pelastik kekanakan
Piring telah pecah
Bertaburan kedalam mimpi kahfi
Disana aku mencoba menyelaminya
Bersama ruhmu kuikat ke otak
Sepanjang perjalanan liku-liku
Berkabung kemana-mana
Piring telah pecah
Secepat angin aku memilihnya
Biar tidak ada luka
Terus mengeja kata
Di salah satunya
Aku temukan hatimu membelah parah
Dari deretan piring
yang telah pecah
Lubangsa 2010
0 comments :