Monday, 19 November 2012

mading terbitan ke VICREW MADING FISIP AD-DAKHIL

Unknown     21:36    




Pelindung
(komisariat PMII COUNTRY UNITRI)

Penanggungjawab
(Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil)

Pemred
Imam Jazuli


Sekred
Novia sulaimah

Redaktur Pelaksana
Latif Yanto
Faidi
Munawara

Reporter
Moh.farid
Agus
Sulaiman
Farid al-basyari

Illustrator
Moh. Faiz


SALAM REDAKSI
            Alhamdulillah puji syukur kepada tuhan yang maha esa, karena berkat beliaulah kita masih masih bisa beraktivitas sebagaimana mestinya. Dengan nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan beliau kita juga masih bertutur sapa lewat media ini.
Tidak lupa kita mengucapkan shalawat kepada rasul/nabi dan sekaligus sahabatbeliau, karena berkat belia juga kita diperkenal dengan aneka ragam ilmu pengetahuan seperti yang dirasakan saat ini.
            Dalam perbincangan kali ini media onlie dan madding rayon fisip ad-dakhil akan coba kembali membahas terkait dengan masalah media, baik itu media cetak, elektronik ataupun media online. Sangat tidak asing lagi bagi kita mendengar kata-kata tersebut. Karena memang pembahasan kali ini sangatlah erat kaitannya dengan dengan aktivitas kita sehari-hari, yakni 99 o/o persen suguhan mengenai tentantang media hamper setiap waktu kita merasakannya. Konsumsi yang sangat besar kiranya yag diambil dan dirasakan oleh kita mengenai tentang media. Dan patut kiranya kita membahas hal ini.
            Harapan kita kepada media adalah bagaimana media menjadi tempat mengakses informasi denga mudah dan baik dan bagaimana komunikasi kita bisa lancer dengan adanya media. Tetapi perlu diketahui kepada para pembaca yang budiman bahwa saat sekarang merupakan sebuah taming untuk kepentingan seseorang untuk bagaimana mempromosikan dirinya atau orang lain dalam hal kepentingan individual. Disiilah sehingganya media dijadikan ajang untuk merebut kekuasaan. Seringkali dalam media ada pengelabuhan-pengelabuhan, ada penipuan-penipuan yang tidak sepantasnya diapload dalam media. Kita sebagai masyarakat yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup, maka sepatutnya kita menganilisis kembali terkait informasi yang kita dapatkan. Mungkin saja ada sesuatu yang tidak layak untuk kita konsumsi dalam media tersebut. Kita wajib telita dalam hal ini. Biar kedepanya tidak ada persepsi jelek tentang seseorang ataupun sekolompo orang. Memang tidak semua media ataupun yang informasi yang kita akses buruk semua. Tapi kita hanya menjaga-jaga dan menganilisis kembali hal tersebut.
            Dari pengantar diatas maka kami crew madding rayon fisip ad-dakil mengangkat sebuah tema tentang : “literasi media: meretas dan menjawab tantangan media commodity”. dan penerbitan madding kali ini merupakan terbitan yang ke VI.
            Dalam edisi kali kali ini sangatlah pantas kiranya jika para pembaca yang arif utuk membaca secara tuntas. Karena dalam edisi kali ini merupakan tentang media yang diakses oleh kita dalam keseharian. Permohonan maaf kepada para pembaca jika terbitan kali ini terlambat, tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Karena ada banyak kesibukan-kesibukan tersendiri di internal crew madding. Maka tidak mengurangi rasa hormat jika para pembaca memberikan keritikan yang konstruktif kepada kami selaku crew. Kritikan dan saran selalu kami tunggu di meja tugas. Oleh karena itu apabila ada tutur kata yang tidak sesuai mulai dari depan sampai belakang tulisan ini saya mewakili semua crew madding engucapkan mohon maaf yang tiada tara.
Wassalam……..
Selamat mebaca!!! (red)

INFORMASI

KEGIATAN RUTINITAS RAYON FISIP ADDAKHIL:
No
Nama Kegiatan
Hari Pelaksanaan
Jam
01
English club
Sabtu
15.00 wib
02
Kajian isu sospol
Malam rabu
19.00 wib
03
Diskusi fakultatif
Selasa
15.00 wib
04
Reading book together
Minggu
15.00 wib


Seluruh crew dan pengurus Rayon Fisip Ad-Dakhil mengucapkan selamat kepada terpilihnya:
Bambang Sugito               (sebagai ketua HMJ tekhnik kimia terpilih)
Hidayatullah                      (sebagai ketua HMJ tekhnologi industri pertanian terpilih)
Luthfi                                    (sebagai ketua HMJ manajemen terpilih)

(semoga kalian semua menjadi ketua HMJ yag benar-benar berkompeten dan professional dalam menjalankan gerak-gerak organisasi)



ARTIKEL


Literasi Media:
Meretas dan Menjawab Tantangan Media Commodity
Oleh: Latif Fianto*

Sebuah Pengantar
Literasi secara mendasar dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Secara teknis, literasi dapat dipahami sebagai kemampuan memecahkan kode, simbol atau huruf yang digabungkan menjadi kata-kata. Dari sejarah kemunculannya, literasi mempunyai peran yang sangat signifikan dalam komunikasi tertulis.
Dalam perkembangannya, literasi media merupakan pengetahuan dan kemampuan memahami serta menggunakan media secara baik dan benar yang harus dimiliki oleh setiap individu. Artinya, literasi media tidak sesederhana istilah melek huruf seperti selama ini dipahami. Literasi media tidak hanya berkutat pada kemampuan mengerti teks media saja. Dalam hal ini teks media bukan hanya berbentuk huruf saja namun juga audio visual.

Media dan Lingkaran Kepentingan Dalam Lembaga Media
Berbicara masalah media tentu tidak lepas dari bit-bit informasi yang diproduksi dan direproduksi setiap saat. Entah itu media cetak maupun media elektronik, dua-duanya merupakan lumbung informasi yang sarat dengan bias dan hiperrealitas. Bukan sekadar itu, ternyata dalam media massa ada banyak kepentingan yang sengaja diselipkan.
Ada banyak pertarungan politik dalam media. Politik ekonomi, politik praktis, politik identitas dan sebagainya. Apalagi perkembangan dan reproduksi bit-bit informasi di media elektronik semakin tidak terbendung. Beragam konten media massa adalah topik yang tak pernah ada habisnya diperbincangkan.
Era digital telah membawa media massa pada tingkat produksi dan reproduksi ide yang semakin mudah dan cepat. Sebut saja televisi. Televisi menjadi media yang paling banyak menyedot pikiran dan perhatian setiap orang. Setiap waktu tidak henti-hentinya ia menumbuhkembangbiakkan berjuta-juta hiburan, ide, gaya ataupun informasi. Di dalamnya sudah berisi bit-bit informasi yang tak terhingga jumlahnya.
Televisi adalah salah satu contoh media massa yang selalu melakukan reproduksi ide, gaya, dan informasi. Ketiga hal tersebut menjajah pikiran setiap orang dan kemudian bereproduksi di sana. Tidak peduli apakah informasi tersebut memberikan kontribusi positif pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan setiap orang yang menontonnya. Sebab yang terpenting ide, gagasan ataupun informasi tersebut menemukan tempatnya dalam benak setiap orang. Mihaly Csikszentmihalyi (1993:136) mengatakan, “pikiran (mereka) dijajah oleh citra gemerlap di layar, dan ia akhirnya tidak bisa lagi melakukan apa-apa selain menekan tombol dan menonton.”
Kondisi yang demikian jelas berangkat dari berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya. Contoh kecil, dewasa ini tayangan televisi tidak terlalu mengutamakan indikator kegunaan bagi kesejahteraan dan kualitas hidup setiap orang melainkan bersandar pada kepentingan ekonomi dan politik. Beragam kepentingan tersebut sudah barang tentu bersumber dari pemilik media atau pemilik modal dalam media tersebut dan sistem pasar yang digerakkan oleh paham kapitalisme. Dalam frame yang sama, Marxisme pun menyuguhkan sebuah perspektif faktual bahwa ada kepentingan ekonomi dan politik dalam lembaga media.
Adanya kepentingan-kepentingan seperti inilah yang menimbulkan lubang-lubang memungkinkannya kebenaran yang tidak sebenarnya atau kebenaran semu. Artinya, ketika setiap ide yang diproduksi dan disajikan pada setiap orang terus menerus berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik, maka media tidak lagi memberikan kebenaran atau fakta apa adanya, melainkan ada upaya untuk menciptakan peristiwa, menafsirkan dan mengarahkan terbentuknya kebenaran.
Kepentingan ekonomi yang demikian dapat pula terlihat dari penggunaan ‘rating’ sebagai barometer keberhasilan sebuah produksi ide dalam industri pertelevisian. Rating menjadi tolok ukur untuk menilai apakah produksi ide (program tayangan) tersebut mempunyai nilai jual yang bagus dan mampu bersaing di pasaran. Ketika rating naik dan semakin bertambah maka jam tayang pun akan semakin panjang.
Hal ini yang kemudian menjadi tuntutan bagi para pekerja industri pertelevisian untuk selalu berinovasi memproduksi program. Kualitas dan kreatifitas pekerja media diukur dari sejauh mana program yang diproduksi mendulang rating yang tinggi. Oleh karena hanya rating yang dijadikan logika keberhasilan program tayangan televisi maka para pekerja tidak jarang mengesampingkan kualitas program yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bahkan nyaris semua program televisi dipenuhi hal-hal magis, kekerasan, eksploitatif, seksualitas, sensualitas, pertengkaran, dan dramatisasi.
Program tayangan televisi yang seperti ini sudah masuk dalam kategori hiperrealitas. Sebut saja program sinetron, reality show, komedian dan sebagainya. Semuanya berkembang biak melebihi kebutuhan manusia. Program-program televisi tidak lagi bersandar pada nilai kegunaan dan kebutuhan melainkan sudah bergeser pada sesuatu yang melewati batas (overshoot).
Overshoot semacam ini akan menimbulkan krisis dan obesitas informasi. Yaitu suatu kondisi dimana informasi tidak lagi mempunyai makna dan arah. Nilai-nilai yang terkandung dalam informasi tersebut menjadi kabur dan tidak dapat dipahami.
Hampir seluruh program tayangan televisi bergeser dari nilai kegunaan kepada nilai-nilai komoditi ekonomi. Akibatnya, program yang ditayangkan adalah program yang sebagian besar bergenre hiburan, kuliner, games, serta program-program yang terkesan fiktif dan dibuat-buat yang secara rasional tidak cukup memberikan kontribusi besar pada taraf kesejahteraan masyarakat. Masyarakat hanya digirng pada kepentingan sepihak pemilik media saja.
Suatu contoh perbandingan. Jam tayang program spiritualitas, hasil penelitian, kreatifitas anak bangsa di beberapa televisi ternyata lebih pendek dibandingkan dengan tayangan program reality show, sinetron dan komedian. Hal ini adalah suatu eroni. Ketika program yang sebenarnya secara esensi banyak memberikan makna hidup pada setiap orang ternyata jam tayangnya lebih sedikit dibanding program yang menjurus pada pola hidup konsumtif.

Literasi Media: Sebuah Upaya Memahami Media
Menghadapi produksi media yang semakin hari semakin berorientasi pada komoditas ekonomi dan penyebaran ideologi dominan, maka urgen sekali setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami media. Kemampuan untuk menyaring, memilah dan memilih informasi atau pesan-pesan yang terdapat di media massa, baik cetak maupun elektronik. Inilah sebenarnya esensi dari literasi media.
Kemampuan untuk menyeleksi setiap pesan atau informasi dalam media ini tentu berangkat dari taraf kekritisan masyarakat dalam menggunakan media. Para pengguna media harus cerdas dan selektif dalam memilih informasi. Cerdas dan selektif dalam artian, minimal seorang pengguna media perlu menyelidiki segmentasi audiens dari informasi tersebut; perlu juga mempertanyakan kandungan informasinya; siapa yang ada dibalik informasi tersebut; lalu ideologi dan nilai-nilai apa yang melatarbelakangi informasi tersebut.
Ada beberapa konsep yang perlu diketahui untuk membangun kemampuan literasi media, bahwa media tidak pernah netral. Media dan ide yang diproduksi tidak pernah berdiri sendiri dan lepas dari konstruksi kepentingan, ideologi, kepemilikan dan tendensi komersial. Mengutip Alex Sobur (2001), bahwa secara teoritik, konten dan makna-makna yang dibawa melalui media ditentukan oleh basis ekonomi dari organisasi yang menciptakan atau membiayai. Akibatnya publik digiring pada konsensus yang menguntungkan mereka.
National Association for Media Literacy Education (NAMLE) memandang literasi media sebagai serangkaian kompetensi komunikasi yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk, baik informasi media cetak maupun non cetak (http://namle.net). Berangkat dari pandangan NAMLE tersebut, maka literasi media menjadi sangat naif untuk dipelajari jika tidak memiliki kemampuan mengakses pesan atau informasi. Nah setelah mampu mengakses informasi, setiap orang dituntut untuk mampu menganalisa, mengevaluasi dan mengkomunikasikan hasilnya agar pengakses informasi tidak terjebak sendiri dalam informasi tersebut.
Dengan demikian, mempelajaari literasi media sangat penting di zaman ini. Zaman yang  tidak lagi terjadi ekspansi informasi, melainkan apa yang disebut Jean Baudrillard (dalam Yasraf: 2011:83) sebagai implosi, yaitu semacam kondisi ruang yang di dalamnya manusia bersama wahananya tidak lagi menjelajahi teritorial dengan cara ekspansi, akan tetapi teritorial-teritorial yang telah dikuasai batasnya, justru meledak ke dalam dan mengerumuni manusia layaknya magnet, melalui simulasi elektronik. Atau meminjam istilah Paul Virilio, bahwa manusia sekarang itu seperi kutub inersia. Yaitu sebuah titik di mana subjek, menampung, menahan, menyerap setiap zat dan gerakan yang datang (informasi, tontonan, gaya) lewat simulasi elektronik.
Pengetahuan dan kemampuan akan literasi sangat penting. Dengan kemampuan literasi media, Pertama, masyarakat akan menjadi audiens yang aktif dan selektif. Kedua, masyarakat mampu membangun kesadaran dan pola pikir yang kritis dalam merespon isi media. Ketiga, masyarakat bisa menentukan isi media yang sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatan bagi dirinya. Keempat, masyarakat menjadi cerdas dalam mengontrol isi media dan tidak mudah terkontaminasi oleh propaganda informasi isi media. Kelima, untuk membangun generasi berikutnya yang tangguh dan siap hidup dalam kungkungan dan gelombang dahsyat media.
Dalam membangun kemampuan literasi media, James Potter (2001) membagi struktur pengetahuan ke dalam tiga kategori guna mendukung perspektif literasi media. Pertama, pengetahuan tentang isi atau konten media. Kedua, pengetahuan tentang industri media. Ketiga, pengetahuan tentang efek media.
Dari ketiga struktur pengetahuan yang ditawarkan Potter, dapat diambil sebuah konklusi konkret bahwa kemampuan literasi media dibangun dari pemikiran kritis atas setiap konten yang disajikan media. Artinya, masyarakat harus mampu menganalisa dan menginterpretasi isi pesan, mengetahui proses industrialisasi media hingga pada ekses-ekses yang ditimbulkan oleh media.
Akhirnya, untuk menghadapi implosi informasi media, setiap orang harus memiliki kemampuan literasi media yang mapan. Dengan literasi media,  masyarakat akan memahami bahwa seluruh ide yang diproduksi media adalah representasi dari konstruksi realitas. Hasil rekonstruksi akan sangat berbeda dengan realita yang dikonstruksi.
Berangkat dari paradigma tersebut, seyogyanya literasi media tidak hanya menjadi wacana retoris belaka melainkan mampu dikejawantahkan dan disebarluaskan kepada masyarakat secara masif dan kontinuitas. Pemahaman akan petingnya literasi media, menjadikan masyarakat yang cerdas dan selektif dalam menfilter terpaan media yang berlalu lalang dengan volume intensitas yang sangat tinggi.


*Latif Fianto, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan Ketua Umum IMIKI Cabang Malang.





CERPEN



 TERSINA
:Imam J. Larat
-“Aku mencintaimu, Bukan untuk menikahimu!”.
+”Kenapa?”. Apakah ada yang salah dengan diriku? Atau mungkin aku sudah tidak layak buat kamu: kurang cantik atau memang dari segi penampilanku yang pas-pasan. Aku butuh jawabanmu yang dapat diterka oleh akal fikiran.
-bukan..! kamu bukan kurang cantik atau sudah tidak layak di mataku. Bagiku cantik dan jelek tidak jadi masalah. Karena bukan cantik yang membawa cinta, tapi cinta yang membuat seseorang menjadi cantik.
+lalu kenapa?
-aku masih tidak bisa melupakan masa laluku meski sedih. Karena masa lalu menurutku tetap hadiah meski sedih. Jadi mengertilah perasaanku.
-“ya, aku mengerti.” Memang butuh waktu untuk melupakannya hingga kau benar-benar jadi milikku seutuhnya. Aku masih sabar menunggumu walau itu sangat menyakitkan. Aku sangat percaya dan optimis bahwa cintamu hanya untukku.
            Ya, semenjak pertemuan sekaligus percakapan itu kesepian meronta di badanku. Lama-lam makin melemah saja. Aku harap ini tidak berkelanjutan sampai benar-benar usiaku genap 20 tahun. Dan sepertinya sudah menginjak bulan ke-2; februari. Dan Bulan mendatang kehidupan yang baru akan benar datang tanpa disangka dan diundang. Kamu tahu?. Di sisa yang genap 20 tahun aku segera dinihkan dengan peria yang tak kukenal. Itsss..., bukan itu maksudku. Masalahnya aku tidak mencintainya. Maka dari itu aku lebih suka kesunyian melamun di dalam kamar. Ah, membuatku tak bergairah saja. Seandainya kau datang pada malam ini dan mengucapkan kata yang kutunggu “aku mencintaimu, maka aku akan melamarmu.” Mungkin saja rinduku berburuh di jendela beserta angin mamiri saling berkejaran meminpin hati kita.
+kau melamun?. Tidurlah, malam sudah larut. Aku tidak ingin anak sematawayangku jatuh sakit karena kerasukan. Malam bukan pelarian, hanya tidur membuatmu lebih tenang.
-ia.
Sejauh ini aku tahu maksudnya. Karena ini adalah perintah bapakku sendiri, rasanya tidak sopan menolaknya. Lebih baik aku tidur berbagi rasa dengan kesepian dan esok hari aku takkan berhenti berharap kau memang datang. Dan jika kau tidak datang, aku sendiri yang akan mendatangi rumahmu sambil kubelai rambutmu sejengkang dari jendela. Biar bunga diluar lebih mekar ingin memastikan apa saja yang kita lakukan di dekat jendela. Cuma satu yang ingin kuinginkan darimu, yaitu: sebuah kata “cinta.” Itu saja sudah cukup mengobati kegelisahan-kegelisahan dalam diri. Tapi kata itu kayaknya terlalu sulit bagimu untuk diucapkan.
Apa aku kurang........???
Ih, melamun lagi, melamun lagi. Rasanya hidup ini hanya andai-andai saja, mimpi mungkin?. Mestinya aku berbuat sesuatu untuk mendapatkannya, bukan hanya mealamun dan terus melamun.
Tunggu aku, jika besok kau tidak datang, maka aku yang akan mendatangi. Malam ini aku sudah bersumpah demi mendapatkanmu; aku rela melakukan apa saja. Seandainya engkau tahu betapa aku sangat mengharapkanmu menjadi penolong di hari-hari kritis ini. Bawalah aku kemana saja sesukamu. Dan sebelum kau tidur maka ingatlah namaku “TERSINA” dan akupun akan mengingatmu “BAPULUH.”
            Diluar sana malam mulai berenang menjemput siang, sementara kesunyian masih terbaring di reranting pohon salak menggantungkan dirinya tanpa sehehelai kain tipispun. Apalagi yang terfikrkan kecuali menunggu. Seperti air yang juga terus saja mengalir tanpa letih menginjakkan kakinya di tanah dan bebatuan. Langit sekarang benar-benar tidak menangis, sebab tidak ada waktu yang tepat menjalankan ritual itu. Hanya remang-remang menanti siang datang.
+kau mau kemana?
-aku tidak mau kemana-mana, hanya ingin mencari angin segar di dekat perkebunan.
+Berangkatlah, jangan lama-lama!, aku tidak ingin kamu kenapa-napa.
***
            Siang begitu indah untuk dinikmati, hanya lalu lalang kendaraan yang membikin orang jadi stres sebab kebisingan panjang tanpa aturan. Seandainya negeri ini tidak ada polusi mungkin saja hidup kita akan nyaman dan dapat menghirup udara segar di pagi hari. Semenjak kemerdekaan indonesia pada tahun 1945 itulah kenyamanan dan ketentraman yang dirasakan rakyat pertama kali. Sebab kebebasan benar-benar tercapai di negeri kita.
Dimana kau, luh?
Apakah kamu tidak akan datang kemari?
“Temuilah aku disini, jemputlah dan katakan cinta” sampai kapan aku menantimu disini. Seandainya penantianku tidak akan membawa kesia-siaan maka sampai matahari menyingsing dan terbit lagi aku tetap menunggumu. Aku orangnya tidak sabarabn jika perbuatan itu masih tidak dalam kepastian. Jika engkau tidak datang maka tunggulah aku di tempatmu.
            Sebenarnya aku tidak pantas melakukan ini, luh!. Akau tahu bahwa aku adalah seorang perempuan; seorang perempuan yang mengharapkan cinta darimu. Tidak selamanya seoarng perempuan menunggu kan?. “itu budaya tidak baik”, biar posisimu aku gantikan pada hari ini. Ibaratnya aku sekarang menjadi peminpin dalam ketakutan: takut kau tidak datang, takut kau akan mengingkari janjinya, takut kau tidak mengatakan cinta, dan takut aku dinikahkan dengan peria yang bukan pilihanku. Kuberi waktu kau 25 menit dan jika masih tidak ada maka tinggal giliran niatku yang akan berjalan. Biarpun banyak orang mengatakan bahwa aku perempuan murahan, perempuan pengemis cinta itu tidak jadi masalah asalkan aku bisa meraih cita-cita itu. Bukankah kebahagian itu sempurna ketika kita menikmatinya bersama seseorang yang kita cintai. Maka kau harus belajar membalas budiku dan usahaku yang layak dengan usahaku.
--------------------------
Matahari di luar adalah saksi cinta
Menusuk-nusuk, menghangatkan dalam bara
Sementara aku disini berenang mengubur kegelisahan
Tanpa sadar aku sudah duduk berjam-jam
Luh, dimana kau?
Disini kesepian sudah mulai mencengkeram
Memupuskan harapan
Kabari aku luh!
Jangan biarkan kesabaranku memuncak
Lalu rinduku sedikit berkurang
Dan demi cinta aku rela menderita

--------------------------------

            Apakah aku tidak salah melihat, kau benar datang, luh?. Kemarilah duduk di sampingku, ada sebuah rahasia yang sanagat penting untuk kusampaikan kapadamu dan kuharap engkau dapat bertanggungjawab atas segala perbuatanmu. Bukannya aku memaksa, tapi aku memang sudah terlanjur bermain air sementara wadahmu khusus kurenangi sudah kering. Sekarang sudah waktunya engkau mengaliri kesekujur tubuhku mumpung gerimis sekarang masih menangis, sebentar lagi hujan badai akan segera datang. Sebenarnya aku ingin memelukku, menciumimu, menikmati aroma tubuhmu, sehingga seutuhnya kau terpekur di hatiku. Namun aku masih ingat bahwa kita masih belum resmi menjadi sepasang kekasih. Jadi biar rasa bahagia ini kutahan sampai nanti setelah waktunya tiba dan kita leluasa melakukan apa saja.

+”katakan, katakanlah, luh!” bahwa kau mencintaiku lalu kau akan menikahiku sebelum aku pingsan dipangkuanmu. Buatlah satu kali ini saja aku merasa bahagia; bahagia yang mungkin orang lain tidak pernah merasakan sebelumnya. Karena kebahagiaan itu sangatlah relatif. Atau kau minta aku yang mengecup bibirmu terlebih dulu.
- “sebenarnya aku juga mencintaimu”, namun aku harus mempertimabangkan keputusanku ini. Kuharap kau memahami keadaanku. Ada sebuah alasan yang mungkin tidak bisa kukatakan padamu saat ini. Setelah tepat waktunya semua akan terungkap dan salah satu orang yang tahu lebih dahulu adalah dirimu selain diriku. Aku menjaminnya.
+”tenanglah, luh!” Kapan sih aku yang tidak memahami perasaanmu. Lakukanlah yang engkau mau. Aku paling luluh terhadapmu, sulit sekali aku menolak segala keputusanmu. Aku sangat yakin dan percaya bahwa cintamu akan menjagaku. Maka lakunlah, aku masih saja setia menunggumu.
            Ya, tiga hari lagi bulan Purnama akan datang, dan aku harus menunggu lagi yang kesekian kalinya. Sebenarnya aku tidak suka menunggu terlalu lama. Tapi semenjak aku kenal denganmu, luh. Nampaknya aku memang diajari untuk terus bersabar dan terus bersabar. Dan segala tindakan pasti ada konsekwensi dan resikonya lalu tergantung kita untuk memilih apa. Diam juga merupakan sebuah pilihan. Jadi antara diam dan tidak itu sama. Tetapi bagaimana kita mengambil keputusan secara bijaksana. Itulah kata-kata yang selalu kamu katakan kepadaku. Dari saking sringnya aku tidak usah menghafal dan ditulis di memory bookku.

malam ke I (Sebelum Bulan Purnama)           
            Nampaknya kegelisahan mulai tumbuh sedikit demi sedikit meski aku sangat percaya dengan semua kata-katamu. Tapi hati ini tidak dapat dipungkiri rasa itu sungguh membuatku kefikiran. Akankah kau akan menepati janjimu. Yang selama ini harus kutunggu dengan penuh kesabaran serta menahan segala emsiku yang sudah memuncak.
Sabarlah hati.... kini Cuma tinggal tiga hari
Kuatkan hati.... agar semua penantianmu selama ini tidak sia-sia
Kuburkan segala kegelisahanmu itu, hiruplah udara segar ini agar engkau merasa tentram di dalam tubuhku, berikan respon yang positif terhadap otakku

Malam ke 2 (sebelum bulan purnama)
            Luh, di laut katanya banyak ikan warna warni. Di darat terlalu banyak orang yang berpuisi lalu pilihlah aku sebagai kekasih mungkin saja tak jadi mati dan hidup di dua-duanya lebih berarti. Bagimu ruang bagiku waktu. Adakah yang dapat dibagi sebagai nilai rinduku?. Malam ini aku sudah terlanjur membuat kata-kata romantis ditemani bunga-bunga di depan rumah serta angin yang berkesiur membawa pekabar, hingga semuanya menjadi iri dan dengki. Mengapa setiap kali menatap dan mengenagmu aku ingin jatuh cinta yang kesekian kali?

Malam ke 3 (pas bulan purnama)
            Malam terakhir ini sudah datang kembali. Apakah kamu baik-baik saja, luh?. Sehingga tidak ada halangan yang mau mendatangiku. Aku sudah bersiap-siap menyambutmu. Aku sudah memakai baju yang paling indah untuk dilihat dan baru malam ini orang yang pertama melihatnya adalah kamu. Jika kita berbincang berdua di taman nampaknya aku sudah belajar cara yang paling romantis untuk mengawali perjumpaan bersamamu. Pokoknya malam ini aku tidak ingin mengecawakanmu. Titik.

Tarrrr......, “siapa itu?”. Ssst.......
“aku mencintaimu, maka aku akan menikahimu.”


Malang 01 juni 2012




PUISI  IMAM J. LARAT

MEMINANGMU

Beberapa kata di mulutku tumpah
Menawar pekat dingin malam waktu ini
Senantiasa kutulis beribu-ribu sajak
Walau semuanya tak tuntas menjadi puisi
Setidaknya pengobat rindu kepadamu

Lewat labirin sunyi
Aku mulai ritualku yang sangsai tertindas duka
Membuka catatan pagi
Serta lukisan-lukisan Elang pembawa kabar

Aku membacanya dengan ragu-ragu
Takut ada yang cemburu
Badan mendidih buncah
Menggenapi gemetar bibir dan perasaan gelisah

Rasanya malam ini
Aku ingin bermain petak umpet bersamamu, berdua
Menghilangkan kalut
Meramaikan suasana hening menakutkan

Sepi telah mengurungku beberapa hari
Mencincang tubuhku untuk menemuimu
;pemburu rindu yang mahir seantero jagat
Untuk menaklukkan pemiliknya
Dan itu adalah kau :maha kasih

Dini malam
Aku akan bermunajat kepada Tuhan
Supaya hari esok
Do’aku terkabulkan
“yaitu meminangmu”
Bukan hanya menemuimu
Agar antara aku dan kau ada ikatan
Biar semua tahu
Bahwa aku sudah insyaf mantan brutal
Dari segala kisah mengerikan

Oleh itu
Aku minta aminmu
Supaya lekas Tuhan mengatakan setuju
Menjadi raja dan ratu
Hingga akhir jaman nanti
Lubangsa, 2010

Piring Telah Pecah

Piring telah pecah
Kukemas lagi dalam ingatan
Sesegera kilat menyambar kala hujan
Serta kubungkus dalam pelastik kekanakan


Piring telah pecah
Bertaburan kedalam mimpi kahfi
Disana aku mencoba menyelaminya
Bersama ruhmu kuikat ke otak
Sepanjang perjalanan liku-liku
Berkabung kemana-mana


Piring telah pecah
Secepat angin aku memilihnya
Biar tidak ada luka
Terus mengeja kata

Di salah satunya
Aku temukan hatimu membelah parah
Dari deretan piring  yang telah pecah

Lubangsa 2010




0 comments :

About us

Office : Jl. Telagawarna Blok D Nomer 2 Kelurahan Telogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur

Salam Redaksi

Kritik dan Saran Kami Sangat Mengharpkan dari Para Kader dan Pembaca, Agar Kedepannya Isi Maupun Conten Bisa Kami Sajikan Lebih Baik
© 2011-2014 MEDIA ONLINE "Ad-dakhil". Designed by Bloggertheme9. Powered by Blogger.