CREW MADING FISIP AD-DAKHIL
Pelindung
(komisariat PMII COUNTRY UNITRI)
Penanggungjawab
(Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil)
Pemred
Imam Jazuli
Sekred
Novia sulaimah
Redaktur Pelaksana
Latif Yanto
Faidi
Munawara
Reporter
Moh.farid
Agus
Sulaiman
Farid al-basyari
Illustrator
Moh. Faiz
Salam Redaksi
Yang terutama saya panjatkan puji syukur terhadap allah swt, karena berkat curahan syafaatnya saya masih bisa beraktivitas sebagaimana mestinya. Dan kita selaku makhluk yang dikarunai akal dan fikiran haruslah pandai-pandai bersyukur menikmati segala yang diberikan ekepada kita. Terutama yang paling menonjol dan dirasakan yaitu: nikmat kesehatan dan kesempatan
Ke dua kalinya kita juga patut mengucapkan shalawat kepada sang revolusioner islam; nabi Muhammad saw. Juga karena berkat beliau kita terarah ke jalan yang lebih benar.
Alhamdulillah meski terlalu banyak halangan dan rintangan serta aktivitas-aktivitas yang lain kami crew mading rayon fisip ad-dakhil masih bisa menerbitkan mading edisi ke III ini, merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami selaku crew mading, tidak lepas karena memang aktivitas pribadi dan organisasi yang begitu padat. Akan tetapi akmi masih sempat untuk mengeksiskan mading ini. Saya peribadi termotivasi dengan sebuah kata-kata mutiara yang bunyinya: “sesibuk-sibuk apapun orang, apabila kita bisa memanej waktu dengan baik maka kita dikatakan orang yang menjalankan misinya dengan berhasil. ” pemimpin juga harus begitu, walau dibenturkan dengan banyak hal maka pintar-pintarlah mengatur waktu jika ingin dikatakan seorang peminpin yang berhasil.
Sengaja dalam edisi kali ini kami mengambil sebuah tema “korupsi hokum mati”. Tema kali ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari tema yang sebelumnya. Dalam edisi yang sebelumnya kami seluruh audiensi dalam hal menyikapi demokrasi dan penyelewengan hak di Indonesia masih sedikit ada yang masih tidak tuntas untyuk dibahas. Maka dari itu pengurus departemen social politik ada sedikit keganjalan dan tidak menemukannya kesepakatan yang jelas mengenai hal tersebut sehingga tema ini muncul lagi meski sangatlah lebih khusus pembahasannya dan tema yang berbeda.
Berbicara masalah korupsi, seakan-akan tidak ada habisnya. Selesai masalah yang satu maka muncullah masalah yang lain. Kira-kira latar belakangnya dari mana? Dan mengapa harus bertindak korupsi?. Jika saya analisis tetaplah semua itu masalah ekonomi. Masalahnya orang yang berbuat seperti itu kebanyakan orang yang sudah duduk dijabatan kepemerintahan. Apakah mereka masih tidak puas dan merasa gajinya kurang sehingga melakukan hal yang meruugikan masyarakat seluruh Indonesia. Ternyata manusia mempunyai sifat serakah dan selalu ingin untung sendiri tanpa harus memikirkan oaring lain. Yang menjadi pertanyaan saat ini, seandainya Indonesia merupakan sebuah Negara yang kaya raya dan semua kehidupan baik dari segi ekonomi dan lainnya ditanggung oleh pemerintah apakah korupsi di Indonesia akan hilang semuanya?.
Korupsi hokum mati, tidaklah lepas dari kasus bahwa semakin banyaknya angka pelaku korupsi di Negara kita dan kebijakan pemerintah yang perlu dipertanyakan kembali. Seringkali kita menemukan seseorang yang bertindak korupsi dan sudah mendapat ganjaran sesuai dengan UUD tapi masih mereka melakukannya. Apakah hokum di Indonesia tidak bisa memberikan efek jerah kepada mereka?. Maka jika seperti itu permasalahanya berarti kita harus mengubah hokum di Indonesia agar nantinya kita bisa aman dan sejahtera dan permasalahan seperti itu tidaklah muncul kembali. Jika kita melihat Negara arab Saudi maka kita akan ingat betul dengan tema kali ini. Apakah hokum di Indonesia akan dirubah seperti disana. Padahal jika dikaji ulang dan dideteksi kembali ternyata meski hokum sangatlah kejam di sana akan tetapi yang namanya korupsi tetaplah ada dan berkeliaran dimana-mana. Apakah kita masih menyalahkan hokum kalau seperti itu. Lantas seperti apakah pendapat para cendikiawan dan para pecinta tulis menulis dalam menyikapi hal tersebut. Kita lihat dirubrik opini/artikel.
Edisi kkali ini sangatlah patut dibaca sebagai bentuk untuk mengetahui segala permasalahan masalah korupsi di Indonesia. Mungkin hanya ini yang dapat dijadikan pengantar buat para pembaca semua. Kritik dan saran yang membangun kami selalu tunggu di meja redaksi. Agar segala kekurangan dari kami dapat terevaluasi dan tinya. Sehingga kami bisa membenahi dan terus membenahi segala kekurangan yang ada. Mungkin juga dari penyampaian saya kuranglah berkenang di hati para pembaca semua maka kami mohon maaf yang tiada tara. Wassalam (red).
INFORMASI
ACARA RAYON FISIP Dalam MINGGU INI
Selagu dengan terlalu banyaknya acara yang diselenggarakan baik itu di internal kampus dan di internal rayon itu sendiri. Maka kami seluruh pengurus rayon fisip ad-dakhil terutama kami di pengurus pendidikan dab kebudayaan bahwasanya rutinan setiap malam selasa tetap ada. Karena kami telah menimbang-nimbang dari sebelumnya bahwasanya meski kita disibukkan dengan hakl lain, maka kita tidaklah lupa dan lalai dalam mengemban tugas dikepengurusan rayon. Rayon ini bisa sukses dan lebih maju itu tergantung dari bagaimana seluruh anggota dan pengurus membawa arah organiasi kearah mana.
Apabila kita mengalami sebuah permasalah di dalam organisasi itu semua merukpakan sebuah tantangan sekaligus cobaan bagi kita. Dan kita sepatutnya meminimalisir segala permasalahan-permasalahan tersebut menjadi sebuah kekuatan baru kita. Dan juga arah organisasi yang baik itu tidak lepas dari seorang peminpinnya. Bagaiman saat ini peminpin merupakan seorang figure yang profesionalitas. Yakni: peminpin haruslah tahu kondisi dan juga segala kebutuhan anggota beserta segala kepengurusan. Bagaimana seorang peminpin yang memang tidak hanya mementingkan pribadinya sendiri. Bagaiman seorang peminpin bisa mengayomi segala kadernya dengan baik dan harmonis. Kunci utama untuk meraih hal tersebut haruslah bisa menjaga komunikasi dengan baik dan juga etika dengan baik. Seorang peminpin merupakan cerminan bagi kita. Meski tidak kesemuanya itu ditanggulangi oleh peminpin dalam menjalankan tersebut. setidaknya kita membuat pengurus lebih solid dan harmonis. Sehingga apa-apa yang dicanangkan bisa terealisasi dengan bagus dan baik baik dari segi outputnya ataupun dari segi mikanismenya.
Skema acara rayon fisip ad-dakhil dalam minggu ini:
No Nama Acara Output/target Penanggung Jawab Hari/tgl
01 BEDAH BUKU
“Risalah Yang Membumi”
Karya : Rara Zarary
Pembedah : Rara Zarary (penulis)
Pembanding : Imam J. Larat
-bisa mengetahui bagaimana tata cara dalam kritik sastra
-mengembangkan potensi kader dalam rana tulis menulis sastra
-bisa menimbang isi buku tersebut
-nantinya rayon fisip akan menjadi rayon yang sakti Bidang pengkaderan rayon fisip ad-dakhil Hari jum’at malam sabtu, tgl 29 juni 2012, jam 18.30 WIB tempat di komisariat lantai 1
02 KAJIAN RUTINAN
Tema: “Pendidikan Dan Etika Politik”
(menimbang peran mahasiswa dalan merubah wajah pendidikan dan etika politik bangsa Indonesia)
Pemateri:
Bpk rifa’i -mengetahui pendidikan dan etika politik: wajah demokrasi bangsa
-mengetahui wajah pendidikan dan etika politik bangsa pasca reformasi sampai sekarang
-menimbang peran mahasiswa dalam merubah wajah pendidikan dan etika politik bangsa kea rah yang lebih baik dan etis Departemen sosial politik Hari senin malam selasa, tgl 2 juli 2012, jam 18.30, tempat di komisariat lantai 1
03 DARUSAN BERSAMA
(dalam rangka menyambut malam nisfu sya’ban) -melupakan dunia sementara waktu
-peroses penyadaran diri, betapa banyak dosa yang kita lakukan
-sebagai rasa cinta, bahagia, senang dalam menyambut datangnya bulan ramadhan. Semua pengurus dan anggota rayon fisip ad-dakhil masa khidmat 2012-2013 Hari rabu, malam kamis tgl 04 juli, jam 19.WIB
Penugasan terbitan yang selanjutnya:
Salam redaksi : Pemred Mading Rayon Fisip Ad-Dakhil
Informasi : Crew Mading
Artikel/opini : Taretan Faiz
Cerpen : Di isi tamu
Puisi : Imam J. Larat
CERPEN
LARUNDUMA
Oleh: Wa Ode Wulan Ratna
Aku masih perawan. Sungguh. Aku masih perawan! Tapi mengapa gendang itu bisa pecah, Ayah?
Lelaki itu ayahku. Namanya Maulidun. Sudah hampir 20 tahun ia menjadi pawang penabuh gendang pilihan pada tiap posuo. Aku membencinya, sebab ia tak menyukai La Runduma, lelaki yang tak bisa pergi dari hatiku.
La Runduma bukanlah lelaki rupawan, dan hanya pekerja serabutan. Sebab itu ayahku tak suka padanya. Sebab lainnya, ia menginginkan aku menikah dengan laki-laki yang sederajat. Untuk itulah aku ikut ritual adat ini.
Semua orang Buton percaya, termasuk aku, putri Buton sejati, bahwa posuo adalah ritual bagi anak gadis untuk menjadikannya dewasa dan mampu mengurus rumah tangga. Acara pingitan yang menyeramkan ini menempatkanku dan tujuh gadis lainnya dalam suo yang pengap dan lembab tanpa penerangan cahaya apapun. Sungguh suatu pingitan yang aneh dan aku melakukannya karena ayah.
Usai berjalan jauh dari Keraton Buton, tibalah kami di Gunung Nona. Tempat itu tampak sepi dinaungi perkebunan langsat dan kecapi. Aku tahu, di sinilah aku akan memulai dahagaku. Ah Run, ke manakah ruh usai ia luruh? Aku mencabik-cabik sepi dengan meremas-remas ujung jemari kedua tanganku. Sungguh menyedihkan, pada malam-malam nanti segala kelam menjadi begitu panjang seperti tanpa ujung dan kesunyian pingsan di tengah hutan. Aku hanya bisa menunggu kapan nasib berbalik arah dan menempatkanku pada posisi yang kuinginkan.
Kami berjalan berarak, diiringi gendang dan mauludan. Di sana, pada salah satu penabuh gendang itu, mata ayah berkilat memberi isyarat agar aku tidak macam-macam. Kami pun masuk ke tengah perkebunan rimbun dan menemukan sebuah rumah. Rumah tempat kami akan menghuninya dengan kengerian selama delapan hari. Run, jangan lupa jemput aku sebelum aku dimandikan air cempaka.
Asap dupa menyapu seluruh tubuhku. Itulah sesi pauncura, sesi pertama untuk mengukuhkanku menjadi peserta posuo. Parika berdecap-decap melafalkan doa. Dan, ayahku, bergerak lamban menyentuh gelas. Mereguk isinya yang menuntaskan dahaga. Matanya pijar menyalibku. Apakah kau ingat pertengkaran kita pada hari-hari sebelumnya, Ayah?“La Runduma itu bajingan, Johra. Percayalah pada bapakmu yang tua ini. Aku ini orang pintar. Banyak ilmu telah kupelajari. Dan La Runduma hanyalah bajingan sejati.” Ah, hatiku, Run, betapa merahnya terbakar oleh kata-kata ayah.
Malam kasip. Gendang itu masih ditabuh di kejauhan membuat bunyi-bunyi berlindung di belakang pukulannya. Usai kami menangis dan mendapat sesuap nasi putih kutemukan mata yang lain bersinar seperti lentera di dalam kamarku. Mata seorang gadis.
“Kau tak suka ikut posuo?” katanya berbisik.
“Aku tak suka menangis dengan cara dicubiti oleh bhisa.”
“Sssttt….” Seru suara yang lain. Kami berdiaman cukup lama. Dalam
suo itu hanya ada empat gadis. Empat gadis lainnya berada di suo yang lain.
“Kau mau menikah?” tanya Riwa kembali.
“Sebenarnya aku tak mau. Tapi ayahku mau aku menikah.”
“Kau anak baik.”
“Tidak, Riwa. Aku hanya pura-pura menjadi anak baik, sebab ritual ini membuatku bertambah menjadi kanak-kanak dibanding menjadi dewasa.”
“Sssttt…, diamlah! Kalian tahu, telinga bhisa ada di mana-mana.”
Akhirnya kami diam. Waktu seakan tak berputar. Aku tak dapat menebak dunia luar. Betapa dunia kini menjadi begitu kelam dan aku seakan berada di alam yang tidak kupahami dan mengasingkan diri dariku.
Letak tidur kami dengan kepala di utara dan kaki di selatan membuat aku tak dapat melihat ke arah jendela. Hanya tembok tebal yang menghalangi kebebasan kami meski imaji kami tetap saja berkeliaran seperti binatang buas di luar. Ia menembus malam yang pekat, berlari-lari menyusuri hutan. Run, tak ada kertas. Tapi aku menulisimu di setiap jengkal langkahku. Sudah lima hari aku bersama sepi. Telah kuketahui dari bisu semua teman-temanku yang ikut terjerat pada upacara ini. Dan, Riwa adalah seorang gadis jelita yang dengan sepenuh hati mencintai adat ini. Run, hatiku gelisah. Apakah kau akan datang memenuhi janjimu?
Malam ini aku akan tidur menghadap matahari terbit, sebab hari ini adalah hari keenam. Aku akan dapat melirik jendela. Adakah bayangmu di sana?
Malam lindap. Siapakah di antara kami yang keluar malam-malam berjingkrak dengan hati-hati menembusi sunyi? Mataku menatap keluar jendela. Tak ada bulan yang membiaskan bayangan. Gelap itu gulita. Tapi di sana, aku dengar, selain tabuhan gendang-gendang itu, ada nafas dan bau perempuan dan lelaki memadu cinta karena rindu dan cemburu.
Aku bangkit perlahan dari tapaku. Berharap tak ada mata yang terjaga. Kuraba-raba malam mencari pegangan. Pada satu sisi di balik kamar mandi. Bau mesum berhembus seperti bau pesing. Bau itu sungguh menyengat sehingga membuat kepalaku pening. Aku mafhum pada zaman ini. Tapi siapakah dua orang muda yang berkasih-kasih itu? Mungkin aku cemburu, sebab kau belum datang dan membawaku pergi dari acara yang akan membuatku menyesal seumur hidupku.
Aku menangis dibalik jeruji kamar itu. Berbalik ke suo dan membenamkan segukku. Hutan di luar begitu rindang dibuai angin malam. Mungkin saja ada halimun yang melamun di pucuk pohon atau babi hutan mengais-ngais mencari sisa rezeki. Di selangkangan malam itu aku menganga. Malam putih bagi para perawan yang dikunci. Ayah, titahmu koyak. Besok pagi kutahu kau diam-diam membisikkan suatu rahasia kepada kepala keluarga yang menitipkan anaknya dalam ritual ini, “Gendangku pecah semalam. Di antara mereka pasti ada yang sudah tak perawan.”
Riwa memakan nasi putih itu. Ia tersenyum menatapku yang sedang menatapnya. Matanya seperti kejora, begitu bersinar. Dan ia bergairah dalam sarungnya, mengikuti setiap ritual dengan syahdu. Para bhisa bernyanyi, melantunkan tembang tentang pembinaan fisik dan mental spiritual. Mereka melontarkan petuah-petuah etika dan keindahan, serta profil-profil pribadi gadis dewasa yang masyhur. Mereka mengajari cara pebhaho dengan air khusus yang berasal dari delapan sumber air khusus dan diambil secara khusus pula. Mereka juga mengajari cara pukundel dengan santan serta mengajari cara melulur tubuh dengan kunyit dicampur tepung beras.
Menurutku posuo juga seperti sekolah kepribadian. Mungkin itu satu nilai yang aku suka selain nilai tanpa mengeluarkan dana yang banyak serta tak perlu bertahun-tahun kursus kepribadian. Aku belajar bagaimana cara duduk perempuan, gaya berjalan, bahkan sampai pakole. Aku perhatikan Riwa. Gadis itu begitu lugu dan menurut. Ia senang semua acara posuo. Apakah semalam aku bermimpi, Run. Ada seorang gadis bersama kekasihnya di kamar mandi, memendam rasa dan suara? Hatiku berdegupan dengan gilanya. Siapakah di antara kami yang berbuat? Ya, tentunya selain aku dan Riwa. Apakah Nila? Apakah Endah? Aku jarang bercakap dengan mereka, sebab mereka terlalu dewasa dan terlalu serius dengan upacara.
Aku tak mau tahu, tapi sore itu parika, para bhisa, dan para penabuh gendang berkumpul di halaman. Aku tahu, gendang ayah memang pecah semalam. Dan, sekarang mereka sedang bermusyawarah. Menerka-nerka siapa gerangan yang menodai malam. Mungkin semua kepala keluarga telah bersumpah kalau anak gadisnya masih perawan. Apakah ayah juga bersumpah? Ia tidak mempercayaiku.
Aku mangkat. Mengangkat kaki diam-diam. Menempelkan telingaku pada dinding tebal dan dingin. Namun, yang terdengar hanya suara angin. “Psst, apa yang kau lakukan?” bisik Nila.
“Aku Johra. Mengapa mereka ada di luar?”
“Jangan Johra, tidurlah! Nanti mereka mendengarmu dan kau akan dihukum.” Riwa memberi saran.
“Apakah kau tahu kalau gendang ayahku pecah?”
“Masa? Kapan pecah? Sudah berapa kali?” Nila tampak sedikit terkejut. Ia hampir terlonjak dalam baringannya.
“Aku tak tahu pasti. Mungkin semalam pecah dan pecah lagi malam ini.”
“Sssttt….”
“Sudah, diamlah. Biarkan mereka berembuk.” Ujar Riwa lagi. Dengan ragu, aku pun kembali ke samping Riwa. Membaringkan tubuhku dan berusaha mengatupkan mata.
“Riwa, apakah kau sudah tidur?” lama ia baru menjawab,
“Belum.”
“Semalam aku…, ah… sudahlah.”
“Ya, sudahlah. Itu bukan urusan kita. Jangan rusak pingitan yang tinggal sehari lagi.”
Usai ia ucapkan itu aku tak pernah mendengar kata apa-apa lagi dari bibirnya.
Mataku terpancang tajam menerawang menerobosi rindu dan hati yang meradang. Aku bergulat pada malam-malam tanpa ujung. Aku mati kutu dipites waktu. Kutelanjangi segala kenangan, raut wajah ayah dan La Runduma. Kisahku dengan La Runduma adalah kisahku yang berlari-lari di tengah padang. Cinta birawa yang sedap dalam penciuman ingatan. Betapa pemuda itu begitu bersahaja, menyentuh pipiku seperti menyentuh satin yang halus.“Johra, aku cinta padamu. Suatu malam di akhir posuo kan kularikan engkau bak pengantin baru.” Saat itu aku tersenyum malu-malu. Hatiku miris. Ayahku adalah satu-satunya orangtua yang kupunya, yang kucinta. Tapi aku terlampau mencintai La Runduma.
“Kau mengajakku kawin lari?” tanyaku saat itu.
“Kau marah kalau kita melakukan pinola suako?”
Run, semalam temanku sudah memenuhi hasratnya. Aku tahu ia juga merasakan hal yang sama dan terjerat dengan masalah yang sama denganku. Bagaimana? Jadi besok kau datang?
Saya sudah tahu. Hatinya untuk yang lain. Apalah artinya perawan, Tuhan? Di balik cinta memang ada pengorbanan meski itu haram karena dilarang agama. Tapi Tuhan, saya akan menikah dengan lain pria. Sebab pria yang semalam menancapkan cintanya di hatiku butuh kekasihnya selalu perawan. “Malam sekali kau datang, Run. Hampir subuh.”
“Ya, aku tunggu bintang-bintang tidur.”
“Tuhan sudah tidur?”
“Aku harap begitu.”
“Seperti cinta, Tuhan selalu terjaga, Run.”
“Mmm….”
“Aku cinta padamu, Run.”
“Aku tidak. Maafkan aku.”
“Kalau begitu kenapa kau datang?”
“Sebab aku kasihan padamu.”
“Lalu?”
“Aku ingin menghormati dan menghargai cintamu seperti yang kau inginkan.” “Ah, kau batu! Hatimu hanya lapuk olehnya.”
“Dia sudah tidur?”
“Ya. Sudah, jangan bicarakan dia lagi!”
Perempuan-perempuan yang telah dibabtis menjadi dewasa itu mulai mengantri untuk dimandikan. Wadah air berupa buyung yang terbuat dari tanah liat itu ada yang berisi bunga cempaka. Suatu wadah yang lain yang dikhususkan bagi mereka yang akan menikah.
Aku menemu, berbaris diantrian yang paling belakang. Para bhisa mendoa-doa, tabuhan gendang tampak berat sebab ada satu gendang yang pecah. Para gadis yang telah dimandikan akan didandani dan akan menggunakan busana eja kolembe. Tiba-tiba kulihat mata Riwa dengan binar kebahagiaannya. Betapa ia menjalankan adat ini sepenuh hati. Aku ingat, suatu saat ia pernah berbisik padaku saat aku sedang melamun, “Apa yang kau pikirkan, Johra?” Aku tak menyahut.
“Apakah kau merasa terkurung di sini dan ingin melarikan diri?”
“Ya, aku ingin melarikan diri.”
“Harusnya ada yang menjemputmu.”
“Akan ada, Riwa. Tapi aku takut.”
“Aku tahu, akan ada. Dan kau tak usah takut. Terbanglah sebelum sayapmu lemah dan mati.”
Riwa, mengapa matamu selalu bahagia? Apakah kau tak mengenal takut ketika membuat pelanggaran atas hidup?
Ah, cempaka itu, Run, andai untuk kita. Diam-diam aku pamit tanpa menyelesaikan adegan terakhir.
“La Rundumaaa… bajingan tengik kau!!!”
“Tenang, Pak. Tenang!”
“Apa dia kesurupan?”
“Aku tak tahu.”
“Anaknya melarikan diri.”
“Pak Maulidun kan punya ilmu, pasti ia dapat menebak siapa yang sudah tidak perawan.”
“Tidak perawan?”
“Ya, ada satu gadis yang tidak perawan. Gendangnya pecah berkali-kali.” “Astaga! Anaknyakah?”
“Sialan kau La Runduma! Dunia akhirat tak akan kurestui.”
“Pegangi dia. Dia syok. Bagaimana ini, apa acara masih dilanjutkan?”
“Lanjutkan saja, istri Moji sudah datang.”
“Tapi jumlahnya ganjil. Kalau ia tanya bagaimana?”
“Bilang saja yang satu sakit.”
Aku seperti hewan yang lepas dari sangkar. Begitu terpesona melihat alam melintang. Aku berhamburan seperti daun-daun kering, sambil meneriaki namamu. Dalam rindang itu aku lihat matahari mengiris-ngiris pepohonan langsat dan kecapi. Kau tampak bersinar ditimpa cahayanya.
“Lama sekali kau baru datang.”
“Masa? Aku ingin mereka semua terjaga dulu dalam resah.”
“Mau ke mana kita?”
“Ke tempat yang jauh.”
Ah Run, ke manakah ruh usai ia luruh? Kami beranjak tanpa meninggalkan jejak. Tapak-tapak itu begitu ringan. Melangkahi dan meninggalkan segala rahasia yang tak perlu lagi diketahui. Oalah Ayah…, mengapa kau menuduhku tidak perawan?
Diam-diam di sana kisruh. Ada hati yang tidak setuju, ada hati yang cemburu.
Cerpen ini memenangkan Juara Pertama Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Nasional 2005 yang diselenggarakan oleh Creative Writing Institute (CWI) bekerja sama dengan Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
posted by wulan @ 7:29 AM 0 comments
PUISI
Surat Cinta Buat Rayon Addakhil
:Imam J. Larat
Ada sejarah disini, Ji ?
Yang luka-luka habis tuntas dikoreki
Lebih bergetar dari pada tsunami
Diiringi suara mikrofon dalam diri
Seperti halnya siang
;peraduan tak tuntas diselenggarakan
Sebelum bunyi kucing mengeong
;ngeong……
Sebelum suara harimau menggonggong
;Huhhhkkkkk……
Sebelum koak elang bersahutan
;coak……
Sebelum purnama berubah riak jadi gerhana
Sebelum tgl 28 Desember 2010
Banyak kegelisahan-kegelisahan panjang
Meriwayatkan segumpal darah
Serta desah nafas
Desah jantung
Desah nadi
Desah kaki
Bercampur jadi satu
Lebur jadi Satu
:Rayon Addakhil PMII Country UNITRI
Aku menamakannya sejarah, Ji!
Dimana tangan kepercayaan Tuhan menuliskannya
Beserta aku yang gila akan pena
Untuk menamakanmu sebagai hadiah
:Petualang penuh juang
Ibarat wadah
Akulah hujan yang segera ingin tumpah
Mengisimu dalam kegelisahan-kegelisahan itu
Dimanakah kau, Ji?
Beserta sahabat-sahabat lainnya
Disini, anak asuhmu lagi membacakan puisi
Ingin meruahkan kegalauan hati
Hari ini aku ingin lebih berarti
Tidak hanya janji-janji mati
esok hari aku mati
Lalu kau membangunkannya kembali
Berharap semoga Tuhan memberkati
Amien ya robbal alamin….
Malang
17 januari 2012
0 comments :