Pelindung
(komisariat PMII COUNTRY UNITRI)
Penanggungjawab
(Ketua Rayon Fisip Ad-Dakhil)
Pemred
Imam Jazuli
Sekred
Novia sulaimah
Redaktur Pelaksana
Latif Yanto
Faidi
Munawara
Reporter
Moh.farid
Agus
Sulaiman
Farid al-basyari
Illustrator
taretan Faiz
Salam Redaksi
Alhamdulillah wa syukurillah, karena berkat nikmat beliau kita masih diberi kesempatan untuk saling bertutur kata dan menyampaikan segala aspirasi yang ada dalam diri kita. Semoga apa-apa yang telah kita lakukan mendapat balasan dari yang berhak memberi balasan.
Shalawat wasalamuhu semoga tetap teralirkan kepada junjungan kita, yakni: nabi muhammad saw. Karena perjuangan beliaulah kita semua bisa mengenal dengan yang dinamakan media. Yang intinya kita diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan yang begitu kompleks dan semakin berkembang.
Rasanya tidak dapat disadari bahwa pada kali ini mading rayon fisip ad-dakhil sudah edisi II. itupun tidak lepas dari dukungan dan sumbangsih pengurus, crew dan anggota itu sendiri. Sebab arah perkembangan organisasi apabila ingin mencapai tujuan yang kita inginkan kita harus saling bekerja sama dan sama kerjanya. Dan semua itu insyaallah kami telah jalankan di rayon fisip.
Seiring dengan perkembangan zaman, orang-orang semakin canggih dan pintar. Sehingga terkadang dengan saking pintarnya kita sering menjumpai orang-orang yang memanfaatkan kecanggihannya. Jika berbicara masalah ini saya teringat dengan teori tanah yang dikemukakan oleh George M. Foster, “the image of limited good”. Yang intinya: “tanah itu tidak dapat diperluas. Setiap usaha untuk memperluas tanah berarti mengurangi luas tanah orang lain, mengingat bahwa luas tanah itu terbatas, tidak expandable. Orang tidak bisa menjadi kaya tanpa orang lain menjadi miskin”.
Mengingat hal itu kami seluruh crew mading dalam edisi II ini mengambil sebuah tema “Membedah Asas Demokrasi Dan Keadilan Serta Sangkut Paut Penyelewengan Hak Di Indonesia”. Tema kali ini memang tidak lepas dari sebuah realita yang ada di indonesia. Saat sekarang ini semua orang masih mempertanyakan tentang demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi ini apakah hanya dijadikan ajang korupsi di indonesia? Atau adanya korupsi korupsi atau penyelewengan hak di indonesia memang karena kita salah menganut faham demokrasi?. Tujuan dari demokrassi itu sendiri adalah memberikan hak-hak rakyat. Tapi sekarang hak mana yang diberikan kepada rakyat. Sebenarnya masalah seperti ini bukanlah isu yang aktual, namun isu seperti ini sudah membudaya di media massa. Akan tetapi masalah-masalah seperti ini tidak pernah selesai-selesai untuk diperbincangkan, karena memang masalah-masalah seperti ini sulit untuk dipecahkan dan dicarikan solusinya. Kecuali kita berangkat dari kesadaran kita sendiri. Apabila sudah stigma para aparatur negara adalah investasi, maka jangan disalahkan di masa jabatannya dia akan bertindak akan menyelewengkan hak-hak yang akan diberikan kepada rakyat.
Itulah sekedar pengantar dari pembahasan kali ini. Jika anda mempunyai gagasan dan ide kami tunggu di edisi yang selanjutnya di meja redaksi. Manusia tidak luput dari khilaf, mungkin tutur kata saya kurang berkenan di hati para pembaca maka saya memohon maaf yang tiada tara. Kritik konstruktif kami selalu tunggu.
Akhirul kalam, wallahul muafiq ila aquamitthariq, summassalamu alaikum wr. Wb. (red)
KEGIATAN RUTINAN
Semakin menjelang liburan bulan ramadhan, semakin pula kegiatan rayon fisip ad-dakhil marak-maraknya. Sehingga tidak dapat dipungkiri setiap departemen berlomba-lomba mengadakan kemegiatan yang sudah tercanang dalam program kerja. Hal ini merupakan sebuah bahan evaluasi bagi rayon-rayon lain yang ada di koisariat pii country unitri. Dan juga mereka harus mengejar ketertinggalannya, karena memang baru-baru ini 2 rayon yang lain baru selesai RTAR (ungkap saja: Rayon Revolusi dan Rayon Nusantara).
Memang sebuah berjalannya program kerja bukanlah tolak ukur organisasi itu sukses dan mempunyai pengaruh sekaligus keberadaannya diperhitungkan, akan tetapi p. rayon fisip ad-dakhil (mengungkapkan: sahabat dasuki) bahwa ”dari segi manapun kader rayon fisip berani bersaing baik dari segi intelektual dan kreativitasannya, apa lagi dari segi mengemas acara dan menjalankan segala program yang ada”.
Akan tetapi hal ini jangan dulu membanggakan segala pengurus rayon fisip, akan tetapi harus siap dalam persaingan dan harus bisa jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dalam hsl ini juga tidak terlepas dari kesolidan pengurus di internal rayon itu sendiri. Organisasi dikatakan sukses apabila tujuan dari adanya organisasi itu sendiri dapat dicapai dan kita semua sudah merasa puas dengn hal tesebut.
Dari hal itu kami seluruh pengurus rayon fisip ad-dakhil mengundang kepada seluruh rayon yang ada pmii country unitri untuk menghadiri kegiatan rutinan setiap rutinan setiap setengah bulan sekali, yang diadakan oleh departemen sosial politik dengan tema “Korupsi Hukum Mati”. Maka kami menghimbau kepada seluruh pengurus, peserta rayon fisip ad-dakhil dan juga seluruh undangan agar bisa mempersiapkan segala refrensinya, agar nantinya kita menghadiri sebuah diskusi sdah ada gambaran apa yang kita ingbutinkan dalam diskusi tersebut. Jika bisa kita berperang idiologi nantinya. Tempatnya seperti biasa di Komisariat PMII COUNTRY UNITRI, Hari Selasa tgl 18-06-2012 lantai satu, jam 19 WIB. Informasi lebih lanjut hubungi Pengurus Rayon Fisip Ad-Dakhil atau di www……………………
Penugasan pengisian tulisan mading terbitan yang selanjutnya adalah:
Salam redaksi : Pemred mading rayon fisip ad-dakhil
Informasi : Crew Mading
Artikel : Moh. Farid
Cerpen : Sulaiman
Puisi : Agus
Malang 15-06-2012
OPINI
Menimbang-Nimbang Demokrasi Di Indonesia
(sebuah upaya mendeteksi keadilan yang tidak merata)
Oleh: Dasuki
Kata demokrasi seakan-akan menjadi antitsis terhadap otrianisme penyelenggara negara pada masa rezim seharto. Berbagai bentuk kritik dilontarkan terhadap penyelenggara negara tetapi dibalas dengan stigma islam fundamentalis, komunis atau berbagai stigma lainnya yang dikategrikan sebagai tindak subversi. Demokrasi yang secara sederhana diartikan sebagai kedaulatan rakyat berhadapan, vis a vis dengan otoriterisme.
Yang jadi pertnyaan sekarang, lalu kira-kira apakah di indonesia memang ber asas demkrasi? Setelah sekian banyak fenomena-fenomina yang menyimpang adari arti demokrasi asli. Baik ditingka pemerataan hukum ataupun di pemerataan ekonomi. Dengan hal demikian apakah asas demokrasi di indonesia perlu diganti dengan asas yang lain? Biar segala apa yang diinginkan oleh seluruh masyarakat indonesia dapat terpenuhi secara merata. Seperti halnya kita ganti dengan sistem monarki dalam gaya kepeminpinan di negara kita. Karena tujuan utam demokrasi adalah memberikan hak-hak rakyat. Dan jika indonesia tidak mampu dalam hal tersebut maka saya sarankankan jangan brdemokrasi saja.
Dalam sejarah lahirnya konstitusi, demkrasi merupakan suatu spirit dan dasar bagi terbentuknya natin state indnesia. Dalam bentuk negara, demokrasi telah dituangkan dalam pasal-pasal tentang hak dan kewajiban warga negara. Tugas pemerintah dan DPR kemudian menjabarkan lebih lanjut dalam bentuk UU dan berbagai peraturan yang mengikat warga negara tanpa berbenturan dengan makna kedaulatan rakyat.
Lahirnya orde baru setelah jatuhnya kepeminpinan soekarno mengusung tinggi-tinggi semboyan “melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen”. Pasca tumbangnya rezim orde baru, mahasiswa dan opini publik menyuarakan otoiterisme orde baru. Sebagai sebuah praktek tata hidup yang tidak beradab ia harus di lawan. Naasnya, seolah-olah demokrasi adalah tuujuan. Dalam bernegara demokrasi adalah alat, sedangkan tujuannya untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur. Dalam islam mungkin dikenal dengan konsep “baldatun toyyibatun wa rabbun qafur”.
Dalam negara kesatuan republik indonesia, MPR yang merupakan lembaga tertinggi negara yang dapat menghasilkan kepuusan-keputusan mendasar, mencakup kepentingan seluruh warga negara, apakah aceh, ambon, jawa dan lain sebagainya. Dengan adanya unsur DPD, maka dapat dikatakan bahwa hal ini dapat dikatakan tindakan etnisitas dan ke daerahan seharusnya sudah dapat diselesaikan dengan baik bilamana equalitas hak dan kewajiban setiap warga negara di mata UUD dasar dan UU benar-benar diwujudkan.
Anarkisme anggota MPR yang dihasilkan oleh pemilu 1999 lalu benar-benar terjadi. Mereka “membabi buta” melemparkan kesalahan perilaku sentralistik ekonomi dan politik rezim orde baru kepada UUD 1945. benar, bahwa UUD 1945 perlu disempurnakan lagi, akan tetapi peroses amandeman menunjukkan betapa jebloknya kualitas dan mentalitas wakil-wakil rakyat.
Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, munculnya pertikaian dalam partai politik hingga menimbulkan perpecahan ditubuh partai adalah dinamika partai yang tidak menemukan bentuk-bentuk penyelesaiannya. Hak itu merupakan dinamika elit partai yang menarik-narik warga partai untuk terlibat dalam konflik. Hak recall partai terhadap anggota dewan-pun kalau tidak ada unsur mekanisme dan penilaian (valuation) yang terukur juga hany menimbulkan otoriterisme baru seperti pada masa seharto.
Lantas apa yang dijadikan valuation-nya, kalau itau hanya melibatkan unsur penggede saja? Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hak seseorang tak dihiraukan lagi, aspirasi warga partai tidak pernah didengarkan, toh tidak ada gunanya hak recall dikembang-kembangkan? Derajat keterwakilan suara warga partai dalam pembuatan keputusan partai hampir-hampir tidak menghiraukan pendapat warga partai. Jadi, elit partai berbicara ini dan itu tetapi perilaku mereka lebih mencerminkan oligarki partai.
Contoh diatas lebih merupakan suatu bentuk mekanisme demokrasi politik yang telah meninggalkan subtansi demokrasi. Subtansi demokrasi politik dalam bentuk peroses menghasilkan keputusan-keputusan politik tersebut yang tidak berangkat dari permuvakatannya rakyat., kontrak sosial rakyat dalam negara. Keberanian untuk memanipulasikan kehendak rakyat, mentalitas anarkisme ketatanegaraan, berbagai kejahatan elit politik terhadap knstitusinya dan berbagai perilaku buruk lainnya merupakan pembunuh demokrasi. Ia dapat hinggap dimana saja dan terhadap siapa saja. Lebih berbahaya lagi kalau menghinggapi struktur kunci dalam sebuah institusi, entah ketua partai, ketua DPR, anggota DPR, presiden dan lain sebagainya, yang memiliki pengaruh luas bagi kehidupan bernegara. Untuk itu wajib hukumnya bagi setiap warga negara indonesia untuk meluruskannya.
Kesimpulannya dari diskusi fakultatif kali ini adalah: kita tidak harus merubah dan menggatikan asas demokrasi ini, karena kesalahanny bukan terletak di demokrasinya, yakni kesalahan-kesalahan, penyelewengan hak dsb kesalahan orang-orang yang berkepentingan di dalamnya. Sebaiknya dan sepantasnya orang-orang itu yang wajib dibumi hanguskan atau perlu digantikan dengan orang yang lebih bijak. Dan kita sebagai pemuda penerus bangsa kita tidak boleh terserang firus tersebut. Mulai sejak dini kita tanamkan dalam hati kita “bahwa kita akan mebawa indonesi lebih maju dan berdemokrasi yang sesungguhnya”.
Catatan: tulisan ini di adopsi dari kesimpulan hasil diskusi fakultatif rayon fisip ad-dakhil dengan tema “membedah asas demokrasi dan keadilan serta sangku paut penyelewengan di indonesia”. Dan telaah “Yusfan A” dalam Demokrasi Yang Tersesat.
CERPEN
GALAU HATI YANG LUKA
Subaidi Pratama*
Seperti malam-malam sebelumnya, sejenak aku ingin membawamu berlayar mencumbui masa lalu. Tak apa-apa meski tak tuntas malam ini. Karena semua curahan ini hanya sebatas galau hatiku yang kau gores dimasa lalu. Ya, mungkin engkau masih ingat; masa yang membuat aku selalu mengenangnya sampai puncak nafas kehidupan. Ya, kau benar sekali, aku akan mengajakmu menatap kembali sisah abu dan pekat mendung yang kau lukis diwajahku. Lalu, kau hunus aku dengan belati dustamu yang begitu runcing. Hinggga keping tubuhku sangsai berkepanjangan.
Meskipun malam ini Aku tak mengerti. Ya, aku benar-benar tak mengerti mengapa malam ini aku sangat suka mengenang luka. Padahal sebenarnya aku sangat tersiksa. Dadaku sesak bagai tersiram air garam. Luka perih mengalir api disekujur tubuhku. Namun aku begitu menikmatinya dengan indah. Luka ini indah sekali Mey, Membengkak, dan menyetubuhiku melahirkan anggur-anggur baru.
Selamat ya, engkau adalah wanita pertama yang melukaiku dengan pedang dustamu. Ya, terimakasih sebelumnya, karena engkau telah setia menanam luka dalam ranjang tubuhku. Aku masih teringat malam itu, minggu pertama bulan Desember dengan seluruh pengakuan dustamu padaku. Saat bulan purnama masih setia mengirim cahaya dengan rambatnya. Lalu angin datang mengundang hujan menjadi tamu luka-luka baru ditubuhku.
Lewat via telphone itu dengan seluruh kejujuran bejatmu, kau katakan padaku bahwa engkau telah punyak kekasih baru sebagai simpanan dibalik kesetiaanku. Meskipun sebelumnya aku tak pernah tahu maksud dan kesalahanku padamu. Entah apa yang menjadi sebab hingga aku menjelma sampah dikolong matamu.
Berkali-kali aku bertanya padamu tentang dosa dan kesalahanku. Namun pertanyaanku kau anggap angin kosong yang tak punyak daya untuk menggerakkan setangkai jawaban dari daun mulutmu. Hanya sebatas dua kata yang tumpah dari lumpur mulutmu menyesaki rongga dada. “maafkan umi bei” katamu dimalam luka itu membuat hatiku semakin hitam pekat mengintal menyimpan sejuta tanya.
Entah inilah kisah cinta skenario hidup yang gagal merindu, atau sebuah kisah kerinduan yang gugur jadi pelukan, meski aku tahu Tuhan adalah pemiliknya. Tapi kenapa musti hati yang jadi korban?. Mengapa tidak batang tubuh lainnya?. Bukankah hati adalah sumber dari segala kejujuran. Kenapa tidak mata, tangan, atau mulut yang selalu melahirkan kedustaan. Dan kenapa juga tidak perasaan jadi korban, yang selalu mengundang nafsu dan ego baru. Aku sadar bahwa hatilah segala sumbernya yang selalu mendatangkan perasaan. Ya, sebab perasaan aku cinta padamu, pun karena perasaan aku jadi suka pada dirimu. Bahkan tergila-gila. Dengan segala cinta yang kupunyak aku menyanjungmu lebih dari segalanya. Dan seandainya tak takut dusta aku ingin menjadikanmu Tuhan kedua setelah yang Maha. Tapi maaf kini keyakinan hatiku telah tersayat oleh pisau penghianatanmu, mengalir darah luka-luka baru.
***
Dulu, sejak pertama kali aku mengenalmu di Pesantren itu. Aura fajar terpancar dari kening pagi wajamu, dan airmerta ketulusan takkan berhenti mengalir dari sungai hatimu. Hingga aku merasakan betapa dahsyatnya gelombang kesejukan dalam setiap tatapan bulan matamu. Lalu aku terhanyut arus cinta kedasar laut jiwamu, berlayar disamudera kerinduan mengendarai sampan kasih sayang.
Namun semua dugaanku salah fatal, ternyata hatimu lebih kejam dari lumpur Lapindo yang membunuh banyak orang dalam satu letusan. Aku muak menatap wajahmu, aku benci. Kini seluruh kekecewaan bergumul dalam diri, menyanyat jantung-hati. Sungguh pisau pengkhianatanmu begitu dalam menusuk jantung, hingga luka sayatnya sangat sulit untuk kubuang. Ah... sungguh aku benar-benar benci...
Jujur, luka ini membuat aku seperti perempuan yang tak punyak daya kelelakian, meski aku adalah lelaki perkasa yang akan setia menikahi usia demi luka yang kau cipta.
Sekali lagi terimakasih Wan,S, karena engkau telah mengajariku hidup seperti perempuan dengan menanam luka yang berkepanjangan. Terusterang kalau bicara kesetiaan, sampai saat ini aku masih sangat setia padamu. Meskipun tetap torehan luka yang akan kau berikan padaku.
Yang terkhir, sebelum aku benar-benar setia menikahi usia, dan sebelum aku benar-benar menjadi perempuan yang tak punyak daya kelelakian. Inilah galau hatiku terbungkus puisi, kuharap engkau membacanya sepenuh hati.
Mey,! Izinkan kubawa lari
Cinta suci ini
Sampai di ujung nafas
Biar tercipta pertemuan kedua
Di halaman surga
Malang, 2012
PUISI-PUISI MAWARDI STIAWAN
Epilog Kerinduan
Aku rindu sekali padamu, sayang
Hingga kuseret saja kerinduan ini
Ke dalam sajak-sajak silsilah rindu di langit banuaju
Lantaran rasa selalu mengantarkan riuh didadaku
Detaknya begitu kencang
Sekencang petir menyambar ke bumi
Dan selanjutnya,
Kita akan berpesta sebelum kerinduan ini
Gagal dalam musimnya
Ya, sebuah pesta, sayang
Sementara langit masih dalam tatap yang sama
Ketika kujumpai di seputaran kota sumenep ke timur
Ada rinduku yang tertinggal
Hingga kusimpan saja sebelum tanggal
Karena selanjutnya, kita hanya bisa bertukar tatap
Dalam mimpi
Sebelum semuanya datang berbondongan
Menemui kita dalam sajak awal ini
Kubiarkan saja angin itu berdesir
Hingga musim menjemputnya
Di batas kota-desa tercinta ini
Dan kita adalah lahir dari darah-tanah yang sama
Yang sama-sama kita rindukan dalam sebuah perjumpaan
Yang sama-sama kita nyanyian ketika rindu dalam persamaan
Dan berpisah dalam tatap wajah sementara
Tetapi disini, di hatiku
Aku selalu menyebutmu dalam sajak-sajakku, sayangku
Malang, 6 Juni 2012
Kembang Kampung
- Perawan Desa
Subhanallah…
Lihatlah, Ma
Bulan itu sedang merindukan perjumpaan
Dari reranting waktu ke musim rindu
Dengan matahari
Cahayanya masih yang dahulu
melahirkan senyuman
Diantara para perindu
Lautnya masih ku hapal
Dari detak gelombang
Angin pengantar musim
Sementara harumnya
Selalu Menelisik hingga matahari cemburu
Dan aku masih tetap disini
Sambil menatap
Dari arah yang di curi
Dan sebuah jejak Yang tercuri
Ma,
Bagiku harga diri
Adalah harga mati
Malang, 2012
Bulan Jumat Yang Dikeramatkan
Malam itu
Suara langit semakin jelas
Laut membalut
Lalu akulah yang galau
Orang-orang tak lagi setia
sibuk mencari gubuk
Hingga keyakinan bisa saja tertukar
Malam itu
Wajah langit yang lain
Membuatku risau
Dari angin yang selalu mendesir
Diantara nisan-nisan batu
Yang kita sepakati
Menjadi benda keramat
Tubuhku gigil
Dari tahlil-tahli yang menjail
Ketika pertukaran itu
Menjadi separuh sukma
Dan kepercayaan itu tak ubahnya benda gadai
Yang sesekali bisa di tukar
Meski hati terasa sukar
Malang, 2012
0 comments :