“Pancasila rumah kita, rumah untuk kita semua, nilai dasar Indonesia, rumah kita selamanya. Untuk semua keluarga menyatu, untuk semua saling membagi. Pada setiap insan, sama dapat, sama rasa, oh Indonesiaku” (Franky Sahilatua)
Melihat kondisi di tubuh bangsa Indonesia, sungguh kondisi yang sangat krusial. Indonesia digerogoti penyakit krusial yang bernama krisis multidimensi. Toleransi antarumat beragama semakin pudar. Rasa solidaritas kian luntur. Kisrus PSSI yang nyaris merenggut mimpi-mimpi anak bangsa. Keadilan sosial yang masih timpang. Korupsi yang semakin menjadi budaya hingga persoalan politik yang kian jauh dari etika dan moralitas. “kristal-kristal firaun kini telah menyatu dalam pikiran bangsa ini” kata Ainun Najib.
Dalam kondisi yang akut seperti itu, banyak orang yang bernostalgia untuk menguatkan kembali pemahaman pancasila. Orang-orang tanpa dikomando secara serentak pada tanggal 1 Juni mendiskusikan pentingnya Pancasila. Presiden, anggota DPR, mahasiswa, petani, pedagang hingga tukang becak gencar membicarakan Pancasila. Di Kota Batu, ribuan peserta berbondong-bondong ikut gerak jalan sejauh 22,5 kilometer (Radar Malang 02/06) – yang konon – untuk memperingati hari lahirnya Pancasila.
Di Jakarta, dalam acara bertajuk “Reaktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Gedung Nusantara IV (01/06), mantan presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie, Megawati Sukarno Putri dan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) berlomba-lomba menyampaikan orasinya. Namun, alangkah miris sekali, ketika Pancasila hanya dijadikan bumbu pemanis orasi saja di atas mimbar tanpa ada upaya untuk menerapkannya.
Hal ini terlihat bagaimana Megawati memperlihatkan ketidakharmonisannya dengan SBY di depan publik (Jawa Pos 02/06). Yaitu dengan tidak menyalami SBY setelah turun dari mimbar seperti halnya yang dilakukan BJ Habibie sebelumnya. “Bersalaman” memang hal sepele, tetapi itu bagian dari keindahan penghargaan seseorang pada orang lain. Toto Suparto, seorang peneliti di Puskab Jogjakarta dalam opininya mengutip pemikiran filsuf Driyarkara bahwa salah satu contoh gambaran manusia Pancasila adalah manusia demokrasi. Driyarkara menyatakan, manusia demokrasi memandang keseluruhan bangsa sebagai keluarga besar. Tentunya pandangan ini dikejawantahkan dengan bekerja secara manusia, yaitu mengakui dan menjunjung tinggi martabat manusia.
Apabila gambaran manusia Pancasila seperti di atas direlevansikan dengan sikap ketidakharmonisan Megawati-SBY di setiap pertemuan keduanya, maka sangat jelas bahwa sebagai pemimpin, mereka yang semestinya menjadi orang pertama dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila justru tidak menggambarkan sebagai manusia Pancasila. Sebenarnya penulis tidak bermaksud mengkambing hitamkan orang lain, tetapi secara logika, pemimpin (presiden) adalah panutan bagi rakyatnya. Karena itu, seyogianya pancasila bukan sekadar diucapkan secara lisan, tetapi juga harus dihayati, kemudian diaktualisasikan. Anthony Robin, seorang penulis pernah berujar, We see in life. Lots of people know what to do, but actually few people do what they know. Knowing isn’t enough, you must take action.
Terlepas dari kenyataan pahit di atas, Pancasila tetaplah sebuah dasar Negara yang sangat tepat untuk bangsa sebesar Indonesia. Para pendiri negeri ini sungguh sangat cerdas dan kreatif merumuskan dasar Negara yang sangat sesuai dengan karakter bangsa yang multietnik, ras, suku dan agama. Pancasila adalah keluhuran budaya spiritual bangsa Indonesia. As’ad Said Ali dalam bukunya Negara Pancasila mengatakan “Bukankah banyak pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa berpegang teguh pada nilai luhur budaya sendiri merupakan sumber kekuatan”. Semoga!!!
0 comments :