Oleh: N. Haqqi S Zamrozi*
Dewasa, kata yang popular bagi berbagai kalangan. Sebuah kata yang bagi kita berarti kebebasan atau pintu yang mengantarkan kita pada pengambilan keputusan yang lebih besar secara mandiri, karena secara psikis kita telah memperoleh kematangan dalam berpikir untuk memberi pertimbangan dan perbandingan dalam pengambilan keputusan.
Namun, bagaimana jika seorang mahasiswa yang seharusnya dewasa telah kehilangan atau belum menemukan “kedewasaannya”. Saat kewajiban dikesampingkan, hak-haknya didahulukan bahkan seringkali sampai mengambil hak saudara sesam mahasiswa atau orang tua dalam status dosen.
Apakah masih pantas disebut mahasiswa jika masih mengabaikan peraturan-peraturan akademik maupun etika pergaulan jika secara terang dan jelas peraturan tersebut sudah terealisasikan dengan baik. Masihkah kita bangga dengan kemahasiswaan kita saat melanggar peraturan. Ataukah mungkin kita merasa keren dengan memalsu absen (TA)?
Praktik-praktik kekanak-kanakan kita adalah sebagai bukti bahwa kita masih jauh dari kata ideal “mahasisiwa dewasa” yang seharusnya penuh tanggungjawab menyelesaikan kewajiban kita. Memang kita juga manusia biasa, namun memiliki keharusan untuk meminimalisirnya.
Kemudian ada dua pilihan bagi kita. Pertama, emban amanah dan kepercayaan orang tua kita dengan penuh tanggungjawab dalam kedewasaan, lulus dengan kebanggaan untuk kita dan lingkungan. Atau yang kedua, pulang dan merengeklah minta antar ke SMA, dengan peraturan-peraturan konyol yang mengikat dan dipaksakan.
Semoga kita adalah tipe mahasiswa dewasa atau mahasiswa ingin dewasa yang mengemban amanah dengan tanggungjawab. Amien!!!
*Mahasiswa TIP Semester IV
Beberapa hari lalu HIMAKOM mendapat undangan dari BEM. Undangan itu berisi pemberitahuan bahawa BEM akan mengadakan turnamen liga mahasiswa cup II. Tentu ini event bergengsi dan besar yang membutuhkan dana banyak untuk mengsukseskannya.
Saya salut pada BEM bisa mengadakan turnamen sepakboala antar HMJ, paling tidak teman-teman yang memiliki bakat sepakola bisa terfalisitasi. Tapi hingga saat ini BEM belum pernah mengadakan pertemuan dengan ketua HMJ masing-masing untuk memecahkan suatu permasalahan atau mensolidkan hubungan antara BEM dengan HMJ seperti raker dan sebagainya.
Masalahnya sekarang, kalau BEM bisa mengadakan event besar kenapa mengumpulkan ketua HMJ tidak bisa. Hal ini berpotensi menimbulkan kesan BEM hanya sebagai tukang buat SK. Kalau seperti ini, dimana peran BEM ketika HMJ mati suri alias tidak aktif. BEM ayo tunjukkan taringmu
Yanto Elga, semester 6 jurusan Ilmu Komunikasi
0 comments :