Oleh: Syak_iz
Sudah tidak asing lagi jika banyak orang mengatakan perempuan berada di bawah derajat laki-laki. Menurut pandangan saya, bukan derajat yang membedakan antara perempuan dan laki-laki, namun lebih tepatnya pada daya pikir itu sendiri. Mulai dari dulu, segala sesuatu selalu diperuntukkan untuk kaum laki-laki. Mulai dari bekerja, berperang, memimpin, bahkan sebagai seorang yang terdidik. Kaum lelakilah yang memang lebih diharuskan untuk memperoleh gelar setinggi-tingginya.
Orang tua rela mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk menyekolahkan anak lelakinya. Kaum perempuan hanya diperuntukkan sebagai gadis rumahan yang menjadi budak bagi sang suami dan mengasuh anak-anaknya kelak. Semua itu adalah kodrat Tuhan, karena itu adalah surga bagi mereka. Tidak menuntut kemungkinan dapur akan menjadi makanan sehari-hari. Jika masalah daya pikir dari keduanya, hal ini tidak lepas kaitannya karena mayoritas para penemu atau para ahli di berbagai bidang berasal dari kaum lelaki.
Di era globalisasi ini, sudah sepantasnya jika paradigma tersebut harus diubah. Jika kita berpikir lebih jauh, perempuan adalah sosok yang istimewa. Perempuan bisa menjadi sosok laki-laki, sedangkan laki-laki tidak bisa menjadi sosok perempuan. Dengan kata lain, perempuan mampu menjadi sosok seorang ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya dalam ranah rumah tangga. Artinya, dapat diperumpamakan sebagai seorang istri yang dapat menjadi seorang pekerja keras demi memenuhi kebutuhan anaknya.
Banyak kita jumpai dipinggir jalan, seorang perempuan yang rela menjadi kuli, tukang becak, pengemis, pembantu, tukang cuci, ada juga yang kerja serabutan. Dia hanya memenuhi suatu kewajiban seorang ayah dan seorang ibu. Sekarang, jika seorang duda yang harus memenuhi dua kewajiban, hal itu tentunya akan terjadi perbedaan. Ia memang mampu menjadi seorang ayah yang mencari nafkah bagi anaknya, namun ia tidak akan mampu menjadi seorang ibu yang mampu menenangkan tangisan bayi, menimang-nimangnya, mengganti popoknya, membelai rambutnya, mengerti perasaannya, memahami bahasanya, dan menjadikan bahunya sebagai sandaran jeritan tangis anak-anaknya.
Jika memang hal itu mampu dia kerjakan, tentunya akan terasa jauh lebih berbeda dengan seorang ibu. Karena tiada kata terindah selain belai kasih seorang perempuan. Terkadang perempuan dapat menjadi seorang ibu walau anaknya tak telahir dari rahimnya. Karena perempuanlah yang mempunyai perasaan dengan kasih sayang, kelembutan yang tinggi dibanding laki-laki.
Dalam dunia peradaban pembangunan, saya pikir bahwa Negara tidak lepas dari peran perempuan sendiri. Mulai dari perjuangan kemerdekaan yang tidak hanya pahlawan laki-laki yang bertindak. Namun perempuan juga mampu merebut jayanya Indonesia. Memang benar, jika setelah era emansipasi wanita digalakkan, perempuan telah banyak yang mendapat posisi dan kesempatan yang sama dengan laki-laki, dan perempuan mampu menempati jabatan-jabatan yang semula dimiliki oleh laki-laki. Hanya saja, sekarang perempuan tidak sepenuhnya terlepas dari penindasan budaya diskriminatif. Perempuan menjadi korban kontrusksi sosial yang tidak adil. Dan tidak ada jalan untuk mengaktualisasi diri. Namun, tetap perempuanlah yang patut diistimewakan, dihargai, dan dilindungi. Karena perempuan bukan sistem seks atau gender yang ditujukan untuk laki-laki atau melayani kebutuhan laki-laki.
0 comments :